Wisata “Halal” versus Wisata “Sakral”

  • Whatsapp

(TOLAK usulan BUDAYA HALAL di Toraja)

Oleh: Yans  Sulo Paganna’, Pr*

Bacaan Lainnya

SAYUP-sayup kudengar dirkursus wisata alam Toraja yang hendak “dibaptis” jadi wisata halal. Spontan hatiku bertanya, “Memangnya wisata alam dan budaya kami selama ini haram, sampai-sampai harus dijadikan halal?”

Minta maaf, tolong kita saling menghargai dalam kehidupan bersama. Aku orang Toraja yang mencoba menggali kearifan lokal daerah kelahiranku yang aku banggakan dan aku cintai, MENOLAK SECARA PRIBADI usulan siapapun yang mau mempromosikan budaya “baru” atas nama “halal”.

Budaya asli leluhur kami sudah ratusan tahun terbangun dan terpelihara dan akan terus terpelihara sebagaimana adanya tanpa cap halal atau tidak halal karena kami sendiri percaya bahwa di balik budaya kami yang luhur itu tidak ada kata tidak halal. Itulah sebabnya nenek-moyang kami menitip kata-kata indah yang tidak boleh kami ganggu gugat: “Belanna ada’ri angki ditandai, tokumua sangka’ri angki dipelele. Budaya kami “per se”-pada dirinya adalah halal. Dan bukan saja halal dan suci tetapi lebih dari itu “sakral”. Karena itulah maka dilakukan dalam sebuah upacara yang sakral. Maka mohon maaf jangan menganggap bahwa masih perlu di”halal”kan lagi. Budaya kami pada dirinya suci, maka jangan pernah bermimpi mau menyucikannya lagi. Adat dan budaya kami justru mengantar dan “mencipta” yang tidak suci menjadi suci dalam suatu upacara yang sakral. Singkatnya, menjadikan yang “kodrati” mencapai “adikodrati”.

Baca Juga  FOTO: Pemandangan dari Tongkonan Lempe Lolai di Siang Hari

Ranah pemerintan boleh diatur oleh pemangku pemerintah, namun budaya harus diatur oleh pemangku adat budaya kami sendiri dan bukan oleh “orang luar” yang tidak paham tentang adat dan budaya leluhur kami. Demikian juga ranah agama diatur oleh pemangku agama. Tiga hal yang di Toraja tidak dicampurbaurkan (dipasikambollak dan dipasikalonak). Kesepakatan ini sudah diatur secara tidak tertulis dalam sebuah perjanjian yang disebut “basse kasalle Toraya”. Dan yang namanya “basse” (perjanjian) orang Toraja sangat takut melanggarnya. Karena tidak tanggung-tanggung bagi siapapun yang mencoba menghianati “basse” itu akan berhadapan dengan hukuman dari alam dan dari “Roh Yang Lain”.

Maka jauhkanlah mimpi Anda untuk campur tangan dalam persoalan “halal – tidak halal”, karena ini adalah ranah adat dan budaya yang nota-bene diurus oleh pemangku adat di daerah kami. Kalau tidak suka dengan alam dan budaya leluhur kami, gampang saja tho? Anda tidak perlu mengunjungi daerah kami. Biarkan budaya kami berjalan seperti yang kami warisi dari leluhur kami ratusan bahkan ribuan tahun. Selama ratusan tahun orang luar Toraja, bahkan dari ujung-ujung bumi datang berbondong-bondong ke daerah kami dan tak satupun pulang dengan keluh-kesah bahwa di Toraja “tidak halal”.

Baca Juga  Luar Biasa, PS Oni Dassi Choir Sabet Medali Emas di Ajang Bali International Choir Festival

Berhentilah memandang budaya kami “tidak halal”. Kami bangga dengan budaya kami, “Toraya Tondokku – Nusantara Negeriku. Dadiko Toraya tongan – Kombongko Indonesia massang”. 100 persen Toraja-100 persen Indonesia. Jangan ciptakan sekian persen saja Toraja sekian persen dari daerah atau dari bangsa lain dan 100 persen Indonesia. Yang aku maksudkan di sini bukan soal genetika tetapi culture alias budaya. Toraja 100 persen budaya Toraja dan 100 persen Indonesia. Tamu yang baik senantiasa memegang prinsip: “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”. Kalau mau diberi label wisata halal untuk Toraja, mohon maaf lebih baik daerah kami jangan dijadikan daerah wisata. Pilihlah daerah lain sebagai daerah wisata yang mungkin bisa dan mau Anda beri label halal karena mungkin belum halal. Budaya kami sudah pada dirinya halal dan suci maka kami tidak memerlukan lagi “penghalalan”. Memangnya tanpa label “wisata halal” daerah dan budaya kami tidak halal?

Baca Juga  Ada Operasi Bibir Sumbing Gratis di Praya X PPGT

Berhenti dan berhentilah dengan mimpi Anda tersebut. Mari saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain. Payah donk kalau mau mengikuti semua “tuntutan kebetuhan setiap pengunjung” atas nama demi si pengunjung. So tabe’ sangmane atau sangbaine, saya pribadi menolak ide ini. Silahkan berlakukan di daerah lain di luar Toraja tidak untuk Toraja. Maka jadilah tamu yang tahu prinsip di Toraja, karena kamipun tahu bagaiman kami menghormati setiap tamu kami.

Percayalah kepada kami bahwa kami tidak pernah berpikir satu persen untuk bermaksud jahat kepada setiap tamu-tamu kami. Kami dikandung, dilahirkan, dibesarkan, bahkan matipun dalam budaya yang santun. Itulah sebabnya setiap tamu kami sebut “solata“, artinya bagian dari keluarga kami. Kami tahu menghormatinya, kami tahu menerimanya dengan penuh hormat, dan kamipun tahu menjamuhnya dengan baik. Karena bagi kami, tamu-tamu kami adalah berkat yang harus kami terima dengan baik dan perlakukan dengan hormat.

Sekali lagi, TOLAK ide WISATA HALAL di Toraja! ***

* Yans  Sulo Paganna’, PrPenulis buku Toraya Tondokku-Nusantara Negeriku

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Saya pribadi mendukung pemerintah menghalalkan wisata Toraja. “Angga’i tu pemali”
    Pandangan singkat saya wisatawan lokal khususnya banyak yg tidak menghargai kesakralan wisata Toraja dengan menjadikn tempat wisata sebagai tempat berbuat mesum. Sayangnya banyak yg tidak peduli dgn hal ini bahkan malah ada yg menfasilitasi untuk meraup keuntungan.
    Tabe’