Toraja Airport Story (Bag. 1): Bermula dari Pertemuan Dua Purnawirawan Angkatan Laut

  • Whatsapp
Bandara Buntu Kunik (yang namanya telah diusulkan diganti dengan Bandara Toraja/Toraja Airport), yang berada di Kecamatan Mengkendek, Tana Toraja, kini siap diresmikan. Presiden Joko Widodo dijadwalkan meresmikan bandara baru ini bersama beberapa proyek strategis nasional lainnya pada Agustus 2020 ini. Uji coba dan pendaratan pertama pesawat sudah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan pada Rabu, 12 Agustus 2020.

KAREBATORAJA.COM, MAKALE — Banyak orang hanya mengetahui Bandara Buntu Kunik ketika sudah dibangun, menimbulkan banyak pro kontra, juga pernah membuat sejumlah orang mendekam di sel tahanan polisi. Sedikit orang mengetahui sejarah, apa dan bagaimana pembangunan bandara ini bermula.

Berdasarkan data yang dimiliki karebatoraja.com (sebelumnya Tabloid Kareba), juga kesaksian dua orang yang masih hidup, bandara ini bermula dari pertemuan dua orang Laksamana Angkatan Laut Indonesia, yang sudah purnawirawan. Yang satu pangkat terakhirnya adalah Laksamana Madya. Dia adalah Laksamana Madya (Purn) Freddy Numberi. Putra asli Papua. Yang kedua pangkat terakhirnya Laksamana Pertama. Dia adalah Laksamana Pertama (Purn) Benyamin Bura. Putra asli Toraja.

Bacaan Lainnya

Kedua orang ini bertemu pada suatu waktu di tahun 2009. Meski pernah satu korps di atas kapal perang, namun kedua Purnawirawan Angkatan Laut RI ini bertemu pada posisi berbeda; yang satu Menteri Perhubungan RI dan yang satunya lagi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Sulawesi Selatan.

Baca Juga  Demi Bandara Buntu Kunik, Aktivis PMKRI Toraja Temui Anggota DPR RI

Kedua Purnawirawan ini adalah sahabat lama, tepatnya mantan Komandan dan anak buah di sebuah Satuan Tugas (Satgas) khusus AL yang bertugas di Belanda. Benyamin Bura sebagai Komandan Satgas, dan Freddy Numberi Komandan Kapal Perang.

“Tapi saya beritahu, kamu bisa tulis, sebenarnya yang merintis pembangunan bandara (Buntu Kunik) itu adalah Pak Bura (Benyamin Bura). Waktu saya menteri Perhubungan, Pak Bura itu anggota DPD. Kemudian beliau minta waktu untuk ketemu saya. Beliau mantan Komandan saya di Belanda, beliau Komandan Satgas, saya Komandan Kapal Perang. Waktu itu, saya lupa tanggalnya, tapi kira-kira tahun 2011,” tutur Freddy Numberi dalam wawancara khusus melalui saluran telepon dengan jurnalis karebatoraja.com, Avelino AP, Rabu, 12 Agustus 2020.

Dalam wawancara, Freddy Numberi menyebut tahun pertemuan mereka 2011, namun data yang dimiliki karebatoraja.com, kedua mantan Laksamana AL itu bertemu tahun 2009. Karena Benyamin Bura menjabat anggota DPD RI dari tahun 2004-2009. Freddy Numberi menjabat Menteri Perhubungan di era Presiden SBY, dari tahun 2009 – 2012.

“Beliau mengusulkan agar bisa dibangun bandara besar di Toraja, karena saya baru selesai bangun bandara besar di Sam Ratulangi dalam rangka WOC (World Ocean Conference) waktu saya Menteri Kelautan dan Perikanan. Merujuk konferensi itu, Pak Bura tanya, apakah mungkin kita bisa bangun airport di Toraja?” tutur Freddy, mengenang.

“Saya katakan, bisa saja!” ujarnya lebih lanjut.

Dari awal, kata Freddy, Benyamin Bura merintis itu. Lalui, dia memerintahkan anak buahnya di Kementerian Perhubungan  untuk melakukan penelitian dan survey. Kemudian diambil kesimpulan bahwa pembangunan airport di Toraja itu bisa dilakukan.

Baca Juga  Begini Kesan Penumpang Pesawat Wings Air Rute Makassar-Toraja

Sebagai tindak lanjut dari survey serta penelitian itu, pada akhir tahun 2009, Freddy Numberi datang ke Toraja. Dia disambut upacara adat di Marinding, Kecamatan Mengkendek.

“Saya datang ke Toraja, pakai helikopter, disambut upacara adat oleh masyarakat di sana. Kemudian saya lihat, saya katakan, ok, coba kita upayakan (pembangunan),” katanya.

Menurut Freddy, selama proses survey, penelitian, belum ada pihak pemerintah Kabupaten Tana Toraja yang datang berkunjung atau berkomunikasi dengan dirinya selaku Menteri Perhubungan kala itu.

“Saya komunikasi terus dengan Pak Bura dalam rangka pembangunan airport itu. Terus kita programkan untuk dibangun. Tapi waktu itu memang tidak ada uang. Dalam blue book Kemenhub itu sudah direncanakan. Tidak ada orang lain yang datang ke saya kecuali Laksamana Bura. Jadi, orang Toraja itu sebenarnya terima hadiah dari Pak Bura. Dan saya sebagai menteri perhubungan yang mendesain dan kita masukkan dalam blue book Kemenhub. Cetak biru itu yang mereka lanjut setelah ada uang,” urai Freddy.

Karena dinilai sebagai perintis dan orang yang terus berjuang untuk pembangunan Bandara Buntu Kunik, Freddy mengusulkan agar Bandara Buntu Kunik diganti namanya menjadi Bandara Benyamin Bura.

“Tidak ada yang pahlawan seperti Pak Bura. Pak Bura itu pahlawan yang sebenarnya di airport itu. Jadi tidak salah kalau namanya diberikan Airport Benyamin Bura. Karena beliau merintis sejak awal. Tidak ada orang lain yang datang ke saya selain Pak Bura,” tegas mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara di era Presiden Megawati Soekarno Putri itu.

Baca Juga  Staf Ahli Bupati Tana Toraja Gagas Proyek Perubahan “Ayo Ke Tana Toraja"

Penuturan soal cikal bakal Bandara Buntu Kunik yang dilontarkan oleh Freddy Numberi itu, diamini oleh mantan Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung. Theofilus menjabat Bupati Tana Toraja periode 2010-2015.

“Berhubung dari hasil penelitian teknis ke Bandara Pongtiku Rantetayo tidak dapat dikembangkan lagi, maka oleh  tokoh-tokoh  Toraja yang dimotori Benyamin Bura diinisiasilah pemindahan atau pembangunan bandara baru,” terang Theofilus, Kamis, 13 Agustus 2020.

Sehingga, lanjut Theofilus, di masa JA Situru menjadi Bupati Tana Toraja, dicarilah lokasi untuk pembangunan bandara baru, mulai dari Nanggala, Sadan, Bittuang dan Buntu Kunik.

Gubernur Sulsel (kini mantan), Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Tana Toraja (kini mantan), Theofilus Allorerung, mencanangkan pembangunan Bandara Buntu Kunik. Lokasi acara di Buntu Mapongka, Ge’tengan.

“Lalu ditetapkan yang paling memenuhi syarat adalah Buntu Kunik. Salah satu point utamanya Buntu Kunik adalah berdasarkan data BMKG, lokasi itu selama 40 tahun (sekarang 50 tahun) tidak pernah tertutup awan dan tidak ada potensi kecepatan angin yang ekstrim,” tutur Theofilus.

Akhir tahun 2009, kata Theofilus, pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mulai melakukan pengukuran dan pematokan area yang akan dibebaskan. Selanjutnya, tahun tahun 2010, masih masa JA Situru sebagai Bupati, mulai dianggarkan biaya pembebasan lahan. (… bersambung)

Penulis: Avelino AP
Foto: Laksamana Madya (Purn) Freddy Numberi dan Laksamana Pertama (Purn) Benyamin Bura; dua orang yang boleh dikata sebagai perintis pembangunan Bandara Buntu Kunik. Insert: Kondisi terkini Bandar Udara Buntu Kunik, Mengkendek.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *