Tidak Efektif, Pemerintah Tana Toraja Diminta Cabut Kebijakan Lima Hari Kerja

  • Whatsapp
Ketua Akaindo Tana Toraja , Jimmy Andi Lolo.

KAREBATORAJA.COM, Makale — Pemerintah kabupaten Tana Toraja diminta mencabut kembali kebijakan lima hari kerja bagi aparatur sipil negara (ASN) di lingkup pemerintah kabupaten Tana Toraja. Karena selain tidak memperlihatkan peningkatan kinerja, kebijakan ini dinilai sebagai pemborosan anggaran negara.

Tuntutan pencabutan kebijakan lima hari kerja sebelumnya sudah disuarakan DPRD Tana Toraja melalui rekomendasi DPRD terhadap Khusus  Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) bupati tahun 2016. Belakangan, rekomendasi itu mendapat dukungan dari sejumlah tokoh masyarakat.

Bacaan Lainnya

Baca Juga  Taekwondo Toraja Utara Optimis Raih Tiket Porda XVI

“Sangat tidak efisien dan tidak ada peningkatan kinerja. Lebih baik kembali ke enam hari kerja saja,” tegas salah satu tokoh masyarakat Tana Toraja, Jimmy Andi Lolo.

Menurut Jimmy, kondisi Tana Toraja beda dengan kota Makassar atau Jakarta. Di Toraja, 70 persen ASN tinggal di luar kota, sehingga pegawai cenderung buru-buru pulang dan pekerjaan terbengkalai, belum lagi faktor cuaca mengajak pegawai untuk malas.

Lima hari kerja, kata Jimmy, sangat tidak efisien karena pada jam- jam habis makan siang sudah banyak pegawai yang tidak konsentrasi bahkan berfikir untuk pulang ke rumah sehingga  menurunkan etos kerja.

“Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk makan pegawai yang bisa mencapai Rp36 milyar dengan estimasi 160 juta/hari  dikali 5.000 pegawai sehingga sangat memberatkan APBD,” tegas Ketua Akaindo Tana Toraja ini. (Arsyad Parende)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *