Siswa Ini Tidak Bisa Masuk Sekolah Unggulan Karena Kurang Uang

  • Whatsapp
Mesak Patintingan memperlihatkan dokumen pendaftaran, di SMA 3 Makale, termasuk kartu tes milik EP kepada wartawan

KAREBA TORAYA — Proses penerimaan siswa baru tahun ajaran 2016/2017 dari berbagai tingkatan pendidikan memang sudah lewat. Selain cerita heboh soal pungutan jutaan rupiah yang dilakukan sekolah dan komite, ternyata masih tersisa kisah sedih lainnya yang dialami oleh seorang calon siswa dari Sangalla, Tana Toraja.

Adalah EP (nama lengkap tidak ditulis untuk menjaga psikologi anak), calon siswa SMA Negeri 3 Makale, yang harus mengubur dalam-dalam impiannya bersekolah di sekolah unggulan, hanya karena uang yang dimilikinya tidak cukup untuk membayar sejumlah uang yang dipersyaratkan sekolah. Padahal EP sudah mengikuti tes dan dinyatakan lulus.

Awalnya EP sudah berusaha maksimal untuk memenuhi impiannya bersekolah di sekolah unggulan. Dia pun menjual dua ekor babi, yang dia pelihara sendiri. Dari hasil jual babi itu, dia mendapat uang Rp2 juta. Jumlah itu sesuai dengan kesepakatan antara orang tua siswa, komiter, dan pihak sekolah, sebagai sumbangan pendidikan dari siswa baru. Namun, EP menjadi patah semangat karena saat hendak menyetor uang Rp2 juta itu ke panitia penerimaan siswa baru, dia mendapat informasi bahwa masih ada tambahan biaya yang harus dibayar sebesar kurang lebih Rp600 ribu.

EP pun pulang ke kampungnya di Lembang Saluallo, kecamatan Sangalla dan menyampaikan hal itu kepada ayahnya, Mesak Patintingan. Apalah daya, Mesak, yang sehari-harinya bekerja serabutan dengan pendapatan yang tidak menentu, tidak sanggup mendapatkan uang Rp600 ribu itu. Dia pun pasrah. Sama EP, juga pasrah. Akhirnya EP memilih mendaftar di sebuah SMA di Sangalla. Impiannya untuk merengkuh pendidikan di sekolah unggulan pun kandas.

“Kami sudah tidak punya uang lagi mau tambah yang Rp600 ribu itu,” ungkap Mesak.

Pihak SMA Negeri 3 Makale, ketika dikonfirmasi Karebatoraja.com Kamis, 4 Agustus, tidak menampik ada calon siswanya yang tidak masuk. Namun mereka berdalih bahwa calon siswa atas nama EP tersebut tidak mendaftar ulang hingga akhir masa pendaftaran ulang. Panitia penerimaan siswa baru SMA Negeri 3 Makale juga mengakui bahwa EP adalah calon siswa yang lulus tes pada jurusan IPA.

“Tapi sampai akhir masa pendaftaran ulang, dia (EP) tidak mendaftar ulang. Jadi kami cari penggantinya dari peserta tes nomor urut di bawahnya,” jelas Ketua Panitia Penerimaan Siswa Baru SMA Negeri 3 Makale, Drs Ani’.

Ani’ mengatakan, dirinya pernah melakukan komunikasi melalui telepon celluler dengan EP. Namun, konon menurut Ani’, EP mengatakan dirinya sudah mendaftar di salah satu sekolah di Sangalla. “Saya pernah telepon dan dia bilang sudah masuk sekolah di Sangalla,” kata Ani’.

Sementara itu, Wakil Kepala SMA Negeri 3 Makale, Drs Mustari, mengakui selama ini pihaknya tidak mengetahui jika ada calon siswa yang mengalami masalah seperti itu. “Andai pihak sekolah sudah mengetahui duduk permasalahannya, mungkin ada solusi atau kebijakan khusus dari sekolah,” katanya.

Dijelaskan Mustari, uang sebesar Rp2 juta itu bukan pungutan melainkan sumbangan dari orang tua siswa berdasarkan kesepakatan bersama dengan komite sekolah. “Kalau dia beritahu orang tuanya tidak mampu, pasti ada kebijakan dari sekolah,” ujarnya.

Mustari pun mempersilahkan EP untuk kembali ke SMA Negeri 3 Makale, jika masih ada niat untuk bersekolah di sekolah tersebut, meski jumlah siswa baru sudah penuh sesuai standar pendidikan. “Dalam kasus khusus seperti ini, mungkin ada pertimbangan khusus juga dari kepala sekolah,” katanya. (arthur)

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

23 Komentar

  1. Ngeles Lagi neh sekolah mau terima lagi dgn alasan2…untuk apa biodata org tua dimasukan???Pungutan yg wajar…harus tiap tahunka beli fasilitas sekolah /renov sekolah???roda kehidupan berganti bos…mungkin sekarang anda seenaknya tapi ingat tdk selamanya anda mampu

    1. Sumbangan orang tua untuk sekolah?? Katanya sekolah unggulan kok minta sumbangan sama orang tua?? Unggul nya dimana?? Unggul pungut sumbangan mungkin??

    1. Oiii sangmane. Coba sebutkan untuk apa sumvangan dari orang tua … biar semua tau. Klo gini yerus jangan mimpi pendidikan kita bisa maju. Yg goblok tp mampu bisa sekolah di sekolah unggulan. Yg kurang mampu tapi pintar selamat bermimpi…hehehe

  2. Ya ampun…kita di jakarta saja gratis…tis..tis masuk Negeri…eh…ini di kampung koq harus bayar….ampun itu sekolah, kemana tu pemerintah daerahnya…di Jakarta anak saya masuk negeri gratis, buku gratis…hanya baju batik dan baju olahraga yg beli….itupun tidak dipaksa…kalau tidak sanggup tidak usah beli…..

    1. Ingat jakarta bukan toraja. Pemimpin jakarta beda dengan toraja. Dan peraturan sekolah juga beda yah. Tolong anda kalau tdk tau permasalahan awalnya sampai akhir, diam saja jangan banyak berkomentar. Apalagi cuma pembaca dan bukan saksi! Berkomentarlah dengan bijak kalau anda berpendidikan!

  3. Please yahh..
    Ini bukan slah skolah okay?..
    Itukan sdah mnjadi ksepakatan brsama, dri awal juga sdah diberitahu pasti.
    Dan ini di desa, bedalah sama kota. D sni kta prlu bnyak biaya untk kelangsungan PBM.

  4. katanya biaya pendidikan ud gratis, kok msi ad pungut2 biaya?? PUNGUT SAMPAH itu bagus pak Guru, tapi kalau pungut d luar aturan itu pungli nmanya, itu sda terindikasi korupsi.. yg dukung Gurunya pungli itu bkan siswa skolah unggulan tapi calon koruptot jga..

    1. Itukan sudah jdi ksepakatan brsama !!
      Tau nggak? Gra2 msalah ini, LCD d klas kmi rusak.. Gimana mau prbaiki?
      Trus, gru2 hnor gk d gaji. Mau dpat gji dri mna mreka??
      Komputer juga rusak, ujian online thun dpan kami gimana??
      Emangnya dana bos cukup??????????

      1. Kalian tau nggak kalo bukan hanya sekolah kalian yang pembayaran uang komitenya akan d cabut? SMA dan SMK negeri yang lain juga ada yang uang komitenya akan d cabut. Tapi bkn krn masalah ini. Soal uang komite dan uang pangkal sdh d himbau dari awal, gak boleh ada. Kalau yg udh terlanjur harus d kembalikan. Jadi jgn bawa2 masalah ini k masalah pencabutan uang komite.

  5. Bukannya Bupati sudah minta sekolah kembalikan uang pungutan? Kok ada lg kasus seperti ini? Kasihan yang berkualitas masuk tp hanya karena uang pungutan ndak cukup akhirnya tdk bs masuk.

  6. Memang benar yah org yang sdah lama berpendidikan akan kalah dengan org yang masih dalam proses di didik. Entah bagimna mereka berpkir haha kalau memang semua pernah sekolah pasti tau kan apa saja yg dibutuhkan sekolahnya. Dan tolong jangan samakan sekolah jaman dlu dan sekarang. Sekrng itu skolah yang memang mau maju pasti butuh dana yang banyak juga dan tdk mngkin dana Bos itu cukup. Dan uang sumbangan dr org tua jga sdh sm2 di sepakati oleh komite dan org tua. Kami yg sudah melewati proses pendidikan di sekolah ini rasakan kok uang kami yg dipakai di sekolah ini. Tidak ada yang namanya korupsi. Dan disini kami dukung skolah atau guru kami karna kmi tau sekolah kami tdak salah. Dan kalian yg hanya jadi pembaca tolong berkomentar dengan bijak dan jngn sampai menjelekkan sekolah kami. Krna org yg di didik pasti tau mereka berpendidikan krna asalnya juga dari sekolah!

  7. Dana boss tidak cukup?? Kok bisa?? Dana boss diturunkan sesuai banyaknya siswa yg ada kemana semua itu?? Toraja harus sadar loooo….jangan banyak korupsinya!! Guru2 PNS yg cari tambahan jam jangan minta honor lagi la bikin malu itu sda dapat sertifikasi masi juga mau yg lainnya!!!

  8. seharusnya pemerintah dan sekolah memperhatikan siswa yang mempunyai prestasi kalau perlu di kasih gratis, sebab banyak sekali siswa yang berprestasi yang tiggal di pedesaan tidak melanjutkan ke sekolah unggulan karena kekurangan biaya.