PILGUB SULSEL, TORAJA INCAR KOSONG DUA

  • Whatsapp

RANTEPAO, KarebaToraja.com – Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan masih setahun lagi. Namun sejumlah tokoh masyarakat di Toraja sudah melakukan langkah-langkah politik agar putra Toraja bisa ikut dalam perhelatan politik lima tahunan tersebut. Jika posisi kosong satu (gubernur) terlampau berat, mereka mengincar posisi kosong dua (wakil gubernur).

Dalam perbincangan di kalangan pelaku politik, tokoh masyarakat, maupun di media sosial, ada beberapa nama yang disebut pantas untuk memimpin Sulawesi Selatan lima tahun ke depan. Nama-nama tokoh Toraja yang beredar di masyarakat, diantaranya pengusaha yang juga politisi, Frederik Batong, mantan Kapolda Sulselbar, Irjen Pol (Purn) Matius Salempang, mantan anggota DPD Sulsel, Litha Brent, mantan Bupati Tana
Toraja, Tarsis Kodrat, dan Pembantu Rektor I Universitas Cendrawasih Papua, Prof Dr Y. Rante, SE, M.Si.

“Kalau dilihat dari hasil pemilihan gubernur selama ini, suara orang Toraja selalu jadi penentu kemenangan pasangan calon,” tutur Otto Payangan, aktivis pemuda Toraja di Rantepao.

Otto mengatakan, dengan alasan itu pula, sehingga para tokoh pemuda di Toraja Utara dan Tana Toraja sudah menggalang dukungan dan melempar wacana agar ada tokoh Toraja yang maju di pentas Sulawesi Selatan. “Yang saya maksud dengan suara orang Toraja bukan hanya yang berdomosili di Toraja Utara dan Tana Toraja saja, tetapi di seluruh Sulsel. Orang Toraja ini kan ada di mana-mana. Suaranya bisa mencapai 1 juta orang,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Lembang (Desa) Maiting, kecamatan Rindingallo, Andarias Sumule, juga mendukung wacana itu. Andarias mengatakan, beberapa nama tokoh Toraja yang beredar itu pantas untuk menduduki posisi tertinggi di Sulsel. “Mereka memiliki kapasitas dan kemampuan untuk memimpin,” ujar Andarias.

Namun dari sejumlah nama yang beredar, Andarias menyebut nama Prof. Dr Y Rante, SE, M.Si, pantas menjadi orang nomor dua di Sulsel. Alasannya, selain merupakan akademisi terkemuka, Prof Rante juga aktif dan sukses di organisasi-organisasi kemasyarakatan. Mantan Ketua Ikatan Keluarga
Toraja Provinsi Papua ini, menurut Andarias layak disandingkan dengan Prof. Nurdin Abdullah, bupati Bantaeng.
“Kalau Profesor dengan Profesor berpasangan, saya kira itu sangat cocok untuk Sulsel. Tetapi ini pendapat saya saja, orang lain boleh menilai,” kata Andarias.

Sedangkan Kepala Lembang Lilikira, kecamatan Balusu, W.P Kulle, SH, mencoba sedikit realistis dengan kondisi perpolitikan di Sulsel. Menurut dia, meski ada, tetapi peluang putra Toraja memimpin Sulsel cukup berat. “Saya kira masih berat, tetapi dalam politik tidak ada yang tidak mungkin. Kita lihat Ahok (Gubernur DKI Jakarta). Itu sebuah fenomena dan bisa saja itu terjadi di Sulsel,” kata Kulle.

Mengenai sejumlah figur yang disebut-sebut pantas maju di pentas pilgub Sulsel, Kulle menyatakan semua nama yang disebut itu layak. Tetapi, pada akhirnya, jika saja ada peluang, kembali ke loby-loby politik yang dilakukan.
“Masyarakat boleh saja berharap tetapi kembali ke masing-masing figur itu, apakah mereka mau atau tidak, agresif atau tidak, karena dalam politik agresifitas itu perlu,” ungkapnya. (arthur)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Banyak orang Toraja yg punya kapasitas untuk maju di Pilgub Sulsel 2018 tapi tdk ada yang punya NYALI,, adanya “rumor” politik uang dan rasisme di mana Orang Toraja dianggap sebagai Suku Minoritas di Sulsel, membuat Orang Toraja berhitung (takut maju krn pasti kalah). Lalu sampai kapan Orang Toraja harus jadi pecundang terus? Adakah yang bisa memperjuaangkan hak2 masyarakat Toraja yang selama ini terkesan dianaktirikan dlm pembagian kue pembangunan di Sulsel?