OPINI: Kearifan Lokal Budaya Toraja dalam Pencegahan Covid-19

  • Whatsapp

Oleh: Dr.dr. Ampera Matippanna, Sked.

SEBENARNYA setiap masyarakat adat yang ada di nusantara ini punya warisan budaya yang selalu dijunjung tinggi oleh masyarakatnya sebagai nilai-nilai yang terus terpateri didalam jiwa masyarakat adat tersebut. Nilai budaya ini menjadi kesatuan pola perilaku yang dianut dalam masyarakat sebagai sebuah ikatan moral yang dilaksanakan menurut kebiasaan-kebiasasn dan tatacara budaya setempat.

Bagi masyarakat Toraja, salah satu kearifan lokal budayanya yang sangat populer adalah semboyan Misa’ Kada Dipotuo, Pantan Kada Dipomate yang memberi arti satu kata kita hidup, jika masing-masing berbeda akan mati. Semboyan ini identik dengan semboyan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Bacaan Lainnya

Baca Juga  Begini Ungkapan Hati Kalatiku Paembonan Terhadap Sahabatnya Eddy Papayungan (Alm)

Kearifan lokal budaya misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate bagi masyarakat Toraja merupakan cerminan jiwa untuk senantiasa se-iya se-kata dalam menjalin persatuan dan kesatuan, bekerja sama, saling tolong menolong dalam kesusahan bahkan dalam menghadapi ancaman atau serangan yang mencoba merongrong keutuhan dan kedamaian masyarakat Toraja.

Dengan semboyan misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate, membuat masyarakat Toraja dapat hidup eksis dimanapun mereka berada karena mereka akan selalu berusaha untuk berkumpul bersama dengan membentuk ikatan-ikatan kekeluargaan masyarakat Toraja sebagai wadah pemersatu mereka untuk saling bekerja sama dan saling tolong menolong.

Dalam konteks pembangunan dan pemerintahan tentunya nilai budaya misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate ini harusnya tetap menjadi sumber inspirasi bagi pemerintah dan masyakat Toraja dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pemerintahan dan pembangunan yang bersumber dari aspirasi masyarakat untuk mewujudkan masyarakat Toraja yang lebih baik, sejahtera, dan maju.

Baca Juga  Sebelum Diberi Bantuan, Pemkab Tana Toraja Data Keluarga Terdampak Masalah Sosial Non PKH

Dalam hal pandemi Covid-19, yang masih terus mewabah di Sulawesi Selatan, maka menjadi satu kebanggaan masyarakat Toraja karena dari 24 Kabupaten Kota yang ada di Sulawesi Selatan, salah satunya yang masih zona hijau adalah kabupaten Toraja Utara yang merupakan kabupaten pemekaran dari Tana Toraja. Tentunya hal ini harus terus dapat dipertahankan agar masyarakat Toraja yang ada disana tetap dapat beraktifitas dengan baik, seperti biasanya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan sehingga roda ekonomi tetap berputar agar masyarakat dapat terhindar dari krisis sebagai salah satu dampak dari pandemi ini.

Melalui kearifan budaya lokal misa’ kada di potuo, pantan kada dipomate akan menjadi tameng utama dalam pencegahan dan dalam pemutusan rantai penularan Covid-19 bagi masyarakat Toraja pada khususnya dan bagi seluruh rakyat Indonesia pada umumnya. Karena hanya dengan bersatu, bekerja sama dan saling tolong menolonglah yang akan mempercepat wabah corona ini dapat ditekan dan dikendalikan.

Baca Juga  Alat Pelindung Diri Standar Covid-19 Tiba di RSUD Lakipadada, Tana Toraja

Ayoo…semua keluarga Sang Torayan, mari kita buktikan bahwa kearifan lokal budaya kita bukan hanya slogan-slogan indah yang mendunia, tetapi menjadi perilaku keseharian kita dalam bekerja sama dan dalam mendukung kebijakan pemerintahan untuk menghadirkan kesehatan yang baik, pendidikan yang baik dan kesejahteraan yang baik.

Kiranya kearifan lokal budaya kita sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara dapat diadopsi oleh seluruh masyarakat indonesia dalam menghadapi pandemi covid-19 ini. (*)

* Dr.dr. Ampera Matippanna, SkedDokter fungsional Pada Badan Pengembangan SDM Provinsi Sulawesi Selatan, Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *