OPINI: Adaptasi Perubahan Iklim untuk Keberlanjutan Sumber Daya Air di Toraja

  • Whatsapp

Oleh: Widya Siskya Patanduk

Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang dalam pola cuaca di suatu wilayah. Perubahan iklim disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu penggunaan bahan bakar fosil, penggundulan hutan sehingga rusaknya fungsi hutan, sampah, efek gas rumah kaca, serta rusaknya lapizan ozon.

Perubahan iklim dapat mempengaruhi kehidupan, seperti: musim bergeser, suhu meningkat dan permukaan laut bertambah tinggi. Perubahan iklim juga akan berdampak terhadap sumberdaya air. Pengaruh perubahan iklim terhadap air, dapat dilihat secara jelas  melalui perubahan dalam siklus air. Kekeringan, banjir, pencairan es di kutub, atau berubah akan berdampak parah pada semua aspek kehidupan.  Baik secara langsung atau tidak, perubahan iklim akan berpangaruh terhadap keamanan dan konflik air.

Dampak sekarang ini yang paling dirasakan oleh masyarakat khusunya di Toraja yaitu, perubahan iklim menyebabkan meningkatnya resiko kejadian banjir dikarenakan tingginya curah hujan sehingga meluapnya sungai disekitar pemukiman masyarakat.

Tentunya hal tersebut memberikan dampak yang merugikan secara langsung kepada masyarakat, dikarenakan akan memperburuk kondisi sanitasi lingkungan, penyediaan air bersih dan meningkatnya resiko penyakit diare dll. Hal ini menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dikarenakan masih banyak masyarakat di Toraja yang memanfaatkan air sungai sebagai keperluan untuk sehari-hari seperti, sebagai sumber untuk keperluan rumah tangga, pertanian, peternakan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu diperlukan tindakan ataupun upaya adaptasi terhadap perubahan iklim untuk mengurangi resiko akibat dari dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim, agar adaptasi tersebut berjalan lebih efektif, maka diperlukan juga program-program dari pemerintah yang berfokus pada pengelolaan air secara terpadu dan berkelanjutan untuk mengurangi kerentanan dan membangun ketahanan iklim.

Pengaruh Perubahan Iklim

Saat ini perubahan iklim merupakan ancaman yang cukup serius dikarenakan karakteristik hujan yang berubah, hujan harian dan intensitas hujan cenderung meningkat, diikuti dengan makin meningkatnya debit banjir, mengakibatkan lebih banyak orang beresiko dan meningkatkan kerusakan, kehilangan, dan kerugian. Dampak yang ditimbulkan dari perubahan iklim pun cukup mengerikan diantaranya yaitu, bencana banjir, badai, tanah longsor, kekeringan, kesulitan air bersih, wabah penyakit dan sebagainya.

Khusunya di Sulawesi Selatan tepatnya di Toraja, curah hujan akhir-akhir ini sangat tinggi, sehingga menyebabkan meluapnya sungai Sa’dan dan mengakibatkan rumah warga yang tinggal tidak jauh dari sungai terendam air serta menggenangi jalanan. Adapun daerah yang akan terkena dampak dari banjir tersebut yaitu, kelurahan Karassik, kecamatan Rantepao, dan Desa Bua Tallulolo, kecamatan Kesu. Selain karena perubahan iklim yang menyebabkan meningkatnya resiko banjir, masyarakat yang kurang peduli terhadap lingkungan juga menjadi salah satu penyebabnya yaitu dengan membuang sampah mereka langsung pada badan sungai, sehingga saat curah hujan tinggi akan menyebabkan banjir.

Perubahan iklim ini sangat berpengaruh ke sumber daya air di Toraja dikarenakan saat terjadi banjir akan menyebabkan kurangnya sumber daya air bersih bagi masyarakat, dampak lainnya yaitu timbulnya berbagai penyakit diare dan penyakit demam berdarah.

Program Monitoring

Biomonitoring dapat diartikan sebagai suatu teknik penggunaan respon makhluk hidup (organisme) secara sistematis untuk mengevaluasi perubahan-perubahan kualitas lingkungan (Náray & Kudász, 2016). Biomonitoring menggunakan pengetahuan tentang ekosistem dengan berbagai dinamikanya untuk memantau berbagai langkah pengendalian lingkungan.

Teknik ini diharapkan mampu menggambarkan tentang cocok atau tidaknya kondisi lingkungan dengan organisme tertentu. Keberadaan organisme tersebut mengindikasikan kondisi ekosistem dan kualitas lingkungan secara khusus atau spesifik (Komarawidjaja & Titiresmi, 2006). Dengan adanya program monitoring, dapat membantu untuk meminimalisir terjadinya banjir maupun dampak yang akan ditimbulkan, dengan memonitoring kualitas air, ekosistem serta lingkungan disekitaran sungai.

Strategi Adaptasi 

Strategi adaptasi terhadap perubahan iklim harus membangun ketahanan iklim. Ketahanan iklim diperkuat melalui layanan ekosistem yang sehat yang mengandalkan daerah aliran sungai yang berfungsi dengan baik. Membangun ketahanan perubahan iklim melalui pengelolaan air dan ekosistem. Dengan dilakukannya upaya ataupun tindakan yang dapat menanggulangi permasalahan ini dengan harapan untuk memenuhi kebutuhan serta mencapai tujuan yang diharapkan, tindakan tersebut dapat berupa pengembangan sistem drainase yang berfungsi untuk menyimpan air, serta mengoptimalkan pembuatan lubang biopori.

Strategi ini diambail sebagai kebijakan untuk panduan dalam perencanaan dan investasi lintas sektor, termasuk perencanaan ekonomi, strategi pengurangan kemiskinan, pertanian, energi dan pengembangan sumber daya air.  Strategi lainnya yaitu melakukan aksi pemulihan DAS yang merupakan sumber air bagi masyarakat, melakukan pengolahan sampah serta membuat larangan-larangan, seperti peraturan pemerintah daerah agar tidak membuang sampah pada badan sungai, sehingga tidak memperburuk kualitas air sungai serta merusak ekosistem didalamnya. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *