Menyusuri Gua Kalumpini’ dan Gua Jepang di Sa’pak Bayo-bayo Sangalla’

  • Whatsapp

Kaki kami menapaki batu-batu padas yang kokoh memasuki labirin gua alam yang indah mempesona. Keindahan gua alam dengan stalagtit dan stalagmit menjadi pemandangan yang menakjubkan dalam labirin-labirin gua. Pantulan cahaya membuat kristal-kristal ornamen gua berkilau indah. Alur-alur resapan air yang membentuk kristal alami merupakan lukisan alam yang sungguh menawan hati. Jalan menanjak, terjal dan berkelok adalah tantangan tersendiri yang memacu adrenalin ketika menyusuri rongga-rongga gua. Keindahan menjelajani gua alam juga merupakan kesempatan menyadari, merenungkan dan mensyukuri karya agung Tuhan yang terlukis di alam ini.

Dua hari Minggu berturut-turut, 27 Oktober dan 3 November 2019, kami menyusuri Gua Kalumpini’ dan Gua Jepang di tempat ziarah Sa’pak Bayo-Bayo (SBB), yang terletak di Lembang Saluallo, Kecamatan Sangalla’ Selatan.

Bacaan Lainnya

Tanggal 27 Oktober 2019, kami menyusuri Gua Kalumpini’ dengan waktu tempuh satu jam ditemani Bapak Agus Ada’, Direktur tempat ziarah Sa’pak Bayo-Bayo bersama Pastor Yans Paganna, Lusya Arung dan kawan-kawan. Fotografer Paul Tandiayu dan crew mengabadikan penelusuran gua itu.

Tidak banyak yang tahu dan menyadari bahwa di bawah rute jalan salib SBB ternyata terdapat gua alam yang luas, indah sekaligus menantang.

Baca Juga  Tomas-Pemerintah Urunan Bangun Tempat Wisata Rohani Sa’pak Bayo-bayo

Ketika kami menelusuri gua alam itu, kami masuk melalui mulut gua setelah perhentian ke-4 dari rute jalan salib. Melalui mulut gua yang sederhana dan kecil itu, kami langsung disambut deretan stalagtit-stalagmit dan rongga gua yang lebar. Ornamen-ornamen gua yang terbentuk dari tetesan air yang mengkristal pada dinding-dinding gua tak henti-hentinya membuat kami berdecak kagum.

Rute perjalanan melewati rute yang berkelok-kelok dan kadang menyempit di antara sela-sela stalagtit yang menggantung di langit-langit gua dan stalagmit yang terbentuk di dasar gua. Kami harus menempuh perjalanan yang curam dan terjal setelah berjalan sekitar lima belas menit dari mulut gua. Jalan itu menurun dan curam sehingga kami harus berhati-hati saat melewatinya supaya tidak tergelincir dan jatuh.

Umumnya dianjurkan membawa tongkat dan menggunakan sepatu atau alas kaki anti-selip untuk membantu melewati jalanan curam yang menurun. Lampu penerangan yang memadai mesti dipersiapkan dengan baik. Sedapat mungkin ada orang berpengalaman yang menemani menyusuri gua ini.

Lukisan berupa guratan-guratan berbagai motif dari rembesan air yang mengkristal menghiasi dinding-dinging gua. Bebarapa ruangan luas di dalam gua dengan batu-batu alam yang menjulang tinggi merupakan keindahan tersendiri yang sungguh melampaui ekspektasi kami.

Kami menjumpai aliran sungai bawah tanah yang keluar di samping pelataran Patung Keluarga Kudus SBB. Mendebarkan, berdecak kagum dan bahagia mewarnai perjalanan kami menyusuri Gua Kalumpuni’ ini.

Baca Juga  Dihadiri Kakanwil Kemenag Sulsel, Uskup Agung Makassar Letakkan Batu Pertama Pembangunan “Gereja Alam” Pertama di Indonesia

Pada hari Minggu 3 November 2019, kami menyusuri Gua Jepang yang tidak jauh dari rute jalan salib. Gua ini disebut Gua Jepang – seperti dijelaskan oleh Pak Agus Ada’ – karena di gua inilah pasukan Jepang bersembunyi ketika mereka sudah kalah dengan dijatuhkannnnya bom atom di Hirosima dan Nagasaki.

Di dalam gua kami menemukan bekas pengecoran lantai gua dengan semen. Pastor Yans Paganna’ berkomentar,“Masuk gua ini, Anda akan terheran-heran dengan kemegahan gua dan keindahan ornamen-ornamen alamanya. Sungguh karya Tuhan indah mempesona!”

Rute perjalanan Gua Jepang tidak se-esktrim Gua Kalumpini.’ Kekhasan gua ini adalah memiliki empat rute jalan keluar. Kami beruntung karena tim KPLH Tunas Muda telah memberikan indikasi rute penelusuran gua sehingga tidak takut tersesat. Apresiasi pantas diberikan kepada KLPH Tunas Muda atas himbauan berupa tulisan untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat dan jangan merusak ornamen gua. Waktu itu kami memilih rute pintu keluar di mulut gua yang sudah masuk dalam wilayah Kelurahan Tongko-sarapung, lalu berjalan memutari gunung batu. Setelah itu, kami kembali ke rute Lo’ko’ Bassean.

Bapak Agus Ada’ menjelaskan sejarah Lo’ko Bassean ini. Lo’ko Bassean (Gua Bassean) adalah tempat sakral karena di gua ini orang akan mengakui dosa-dosannya jikalau ada orang yang membuat pelanggaran. Jikalau dia tidak mau mengakui dosanya maka dia akan digiring ke tebing jurang dan dijatuh ke dalam. Sementara orang yang mau mengakui dosanya, ia akan dibawa ke bagian tengah gua di mana ada tiga batu berdiri tegak. Di sana ia akan mengakukan dosanya. Setelah pengakuan dosa dan mendapatkan pengampunan, orang itu akan mempersembahkan kurban persembahan berupa ayam atau babi sebagai silih atas dosa-dosanya. Dia pun akan terbebas dari dosanya.

Baca Juga  Kemenag Tana Toraja Gelar Workshop Kebangsaan dan Launching Perubahan Mahumsa

Tempat ini menjadi sangat istimewa karena persis keluar dari Lo’ko’ Bassean kita akan menjumpai rute jalan salib pada perhentian ke-14, yaitu perhentian terakhir, “Yesus dimakamkan.” Jikalau kita refleksikan lebih jauh, rute jalan salib adalah kesempatan untuk refleksi sendiri, menyadari dosa-dosa kemudian memohon ampun atas dosa-dosa itu. Ini adalah peziarahan yang bermuara kepada rekonsiliasi: orang menyadari dan mengakui dosanya, memohon ampun dan mendapatkan absolusi atas dosa-dosa. Itulah salah satu nilai rohani dari rute jalan salib Sa’pak Bayo-Bayo yang berakhir persis di Lo’ko’ Bassean.

Setelah kami menyusuri Gua Jepang dan melewati Lo’ko’ Bassean, kami pun tiba di pelataran Patung Keluarga Kudus. Badan kami penat, lelah dan penuh peluh. Kami pun turun ke sungai Sa’pak Bayo-Bayo berenang. Air sungai yang jernih dan segar memulihan keletihan perjalanan menyusuri gua alam yang indah mempesona. (*)

Catatan Aidan PSPemerhati dan pencinta alam
Foto: Paul Tandiayu

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *