Mengenang Lisa Marie Parantean; Sahabat dan Inspirator

  • Whatsapp

PADA Senin, 6 April 2020 ini, keluarga dan kerabat, kolega dan kita semua mengenang 40 hari meninggalnya Lisa Marie Parantean. Di tengah-tengah keprihatinan akibat pandemi Covid-19, artikel ini didedikasikan untuk mengenang penggagas Toraja Marathon yang kita kenal sebagai sosok multitalenta, aktivis sosial yang antusias dan berkomitmen. Ia telah memberi contoh bagaimana mencintai negeri dan kampung halaman kita.

Lisa wafat pada 26 Februari 2020, sehari setelah merayakan ulang tahun pernikahannya, setelah sekian tahun berjuang melawan kanker. Kabar kepergian Lisa dengan cepat menyebar di media sosial dan memantik banyak ungkapan duka cita dan  kenangan pada sosok yang dikenal luas ini. Presenter terkenal Desi Anwar mengunggah foto-foto kenangan dengan Lisa melalui channel YouTube. Portal berita seperti karebatoraja.com memuat beberapa item berita terkait wafatnya Lisa.

Bacaan Lainnya

Doa dan topangan simpati  mengalir dari berbagai kalangan. Ratusan pelayat saat jenazahnya disemayamkan di Rumah Duka RS Harapan Kita sampai di peristirahatan terakhir di Pemakaman Sandiego Hills.

Keluarga mencatat, karangan bunga datang dari berbagai komunitas seperti Relawan Bravo Lima PP, Relawan Wanita Braw, Relawan Merah Putih, Relawan Pita Pink/Cancer Payudara.  Dari tokoh-tokoh penting seperti Jendral Luhut Binsar Pandjaitan, Jendral Hendropriyono, Jenderal Agum Gumelar, Basuki Tjahaja Purnama, Diaz Hendropriyono. Sejumlah Pejabat Sipil, Militer, Kepolisian, dan Parlemen, serta  tokoh masyarakat dan pimpinan Pemda Toraja.

Di Toraja, komunitas pelari Toraja Marathon berlari khusus mengenang dan menghormati Lisa. Pemda Toraja secara terbuka di media   mengaku sangat kehilangan sosok penggagas Toraja Marathon yang  ikut mendongkrak kunjungan wisatawan ke dua wilayah itu.

Siapa Lisa? Mengapa sosoknya begitu istimewa? Kakaknya, Dayana Parantean menceritakan masa-masa pembentukan karakter, kariernya, aktivitas sosial dan perjuangan Lisa melawan penyakit kanker yang diderita.

Aktif di Gereja dan Sekolah Sejak Kecil

Lisa adalah bungsu 4 bersaudara dari pasangan Samuel Parantean – Ludia Layuk. Lahir pada tanggal 15 Februari 1978. Lisa tumbuh menjadi anak yang lincah dan pandai. Lisa kecil sangat ceria. Sangat mudah bergaul, tidak hanya dengan teman tetapi dengan semua kalangan. Lisa kecil juga penyayang binatang. Pernah dia menangis kencang sewaktu anjing kesayangannya mati. Lisa juga termasuk anak berprestasi, beberapa kali menjadi juara dalam kelasnya. Walaupun pintar dia tidak pernah sombong. Suka membantu temannya yang kurang mengerti pelajaran. Lisa kecil juga rajin mengikuti berbagai extra kulikuler seperti karate, berenang, dan banyak lagi.

“Lisa adalah peserta karate termuda pada saat itu. Lisa baru berusia 6 tahun dan  tidak  pernah mengeluh setiap mengikuti ujian. Walaupun harus dengan naik gunung.”  Dayana Parantean mengenangnya.

Baca Juga  Lisa Parantean, Penggagas Sekaligus Penyelenggara Toraja Marathon Meninggal Dunia

Pada saat orangtua Lisa tugas belajar ke Australia, Lisa dan kakak-kakaknya juga ikut studi di sana. Lisa meneruskan SMP nya di Junior High School Swanbourne Perth, Western Australia.  Lisa tumbuh menjadi gadis yang cantik, rajin, disiplin, tegas. Dan mulai terlihat jiwa sportif dan jiwa sosialnya.

Lisa dengan cepat mulai aktif di gereja GKI di Perth dan aktivitas sosial di sekolahnya. Lisa sangat disiplin  mengatur jadwal belajar, olahraga, membantu orangtua di rumah dan lainnya. Ketika orangtua kembali ke Jakarta setelah dua tahun belajar di Australia, Lisa dan salah satu kakaknya ikut pulang. Lisa meneruskan tahun ke 2 di SMA Lab School Jakarta. Di sekolahnya, Lisa aktif di kegiatan OSIS. Pada waktu itu, Lisa juga mulai aktif kegiatan sosial di gereja Toraja Jatiwaringin. Dia menjadi salah satu kakak sekolah minggu dan aktif di vocal group pemuda. Setelah lulus SMA, Lisa melanjutkan studinya di bidang Media di Murdock University, Western Australia. Lisa tipe anak muda yang tidak bisa diam. Di sana ia punya segudang kegiatan, mulai dari belajar, mengerjakan tugas-tugas, kadang sampai pagi. Lisa juga mengambil part time job di cicerelos kitchen, fremantle serta sebagai journalist freelance untuk media company di Australia.

Aktif di Televisi

Tahun 1995, Lisa kembali ke tanah air. Dia mulai bekerja sebagai dosen di Universitas Borobudur sambil  bekerja di stasiun televisi Lativi sebagai editor selama 2 tahun. Dari Lativi, Lisa meneruskan studi S2nya di bidang Media di Universitas Indonesia selama 2 tahun. Lulus dari universitas, Lisa bekerja di beberapa production house, sampai pada tahun 2000 Lisa mulai bekerja sebagai produser dan editor di Metro tv dalam acara Face to Face bersama Desi Anwar. Face to Face adalah program exclusive dari Metro TV yang dipandu oleh Desi Anwar dimana mereka, termasuk Lisa sebagai produser, berkesempatan mewawancarai pemimpin-pemimpin dunia dan orang-orang yg berpengaruh. Sebut saja Gailama, biksu dari Nepal, presiden Finlandia, actor Richard Gere dan lainnya. Lisa juga berkesempatan ikut program yang menayangkan sisi lain dari suku-suku nusantara di Irian, Timor Timur, Toraja, Sumatra, Jawa, dan lain-lain.

Walaupun Lisa disibukkan dgn padatnya aktivitas kerjanya, Lisa tidak melupakan sifat sosialnya. Lisa tetap aktif sebagai pengurus di Persekutuan Pemuda Gereja Toraja (PPGT) Jatiwaringin.

Pada tahun 2006, Lisa ikut membantu terlaksananya event Toraja Mamali yang diprakarsai oleh Jenderal Polisi Ismerda Lebang. Event Toraja Mamali adalah event terbesar di Toraja dalam rangka memperingati 100 tahun Injil masuk Toraja. Kemampuan Lisa sebagai programmer dan editor sangat membantu karena sangat jarang basic pendidikan seperti Lisa pada waktu itu di Indonesia, terutama di kalangan warga Toraja.

Baca Juga  Halo Runners, Siap-siap Ya, Toraja Marathon Akan Kembali Digelar

Lisa tidak  pernah memikirkan diri sendiri, Lisa selalu berkeinginan untuk membantu dengan sepenuh hati sehingga apapun pekerjaan yg dikerjakan, selalu diupayakan berhasil dengan baik dan sempurna. Minat organisasi dan kepemimpinan Lisa, terinspirasi dari  Sang Ayah Samuel Parantean yang dimasa mudanya ikut dalam perjuangan Dwikora  dan menjadi salah seorang pimpinan demonstran Mahasiswa sebagai komandan Laskar Ampera tahun 1966.

Pada tahun 2005, Lisa bertemu dengan kekasih hatinya Roni Rombe di perkumpulan pemuda gereja Toraja. Mereka sama-sama lulus dari S2 UI. Keduanya mengikat janji sebagai pasangan suami istri pada tanggal 26 Feb 2005. Setelah 5 tahun menikah mereka dikaruniai anak laki-laki  bernama Reegan Ananta Rombe. Sebagai ibu yang baik, Lisa tetap ada selalu disamping Reegan. Padatnya kegiatan Lisa tidak menghalangi  untuk memberi ASI exclusive untuk Reegan. Meski mempunyai banyak kesibukan, terlibat kegiatan di gereja tidak pernah dia lupakan.

Aktivitas Lisa selain bekerja di Metro TV, dia juga tetap disibukkan sebagai producer di beberapa stasiun tv lainnya. Lisa juga memiliki bisnis Laundry, renting Apartment dan design Consultant. Lisa juga mendirikan perusahan film. Ia menjadi produser film Kambing Jantan, yang digarap bersama sineas kenamaan Rudi Soedjarwo dan seleb dan komika multitalenta, Raditya Dika.

Divonis Kanker Payudara

Pada tahun 2015, Lisa memeriksakan dirinya ke dokter karena dia merasa ada yang tidak nyaman dalam dirinya. Vonis dokter yang mengatakan Lisa terkena Kanker Payudara sungguh sangat menghancurkan dirinya dan keluarga. Tapi bukan Lisa namanya jika menyerah begitu saja. Dia dengan ikhlas dan semangat berjuang keras melawan kankernya. Lisa taat mengikut setiap anjuran dokter.

Kemudian Lisa juga ikut aktif di Yayasan Kanker Indonesia, Pita Pink, bersama Nyonya Agum Gumelar. Pita Pink adalah yayasan yang membantu memberi motivasi dan semangat untuk pasien kanker khususnya payudara. Lisa salah satu yang sangat dedicated membantu para pasien kanker payudara. Lisa selalu punya channel dimana dia bisa mendapatkan kebutuhan-kebutuhan pasien kanker, seperti kursi roda, tabung oksigen dan lainnya. Sampai sekarang teman-temannya tidak tahu darimana itu semua Lisa dapatkan dengan cepat.

Penggagas Event Internasional, Toraja Marathon

Lisa adalah salah satu penggagas event Toraja Marathon International. Event ini tercetus dari niatnya yang tulus untuk memperkenalkan Toraja. Dengan berlari menikmati alam, melibatkan peserta baik nasional maupun internasional. Dengan campur tangan dan kegigihan Lisa, event tahunan tersebut  terselenggara dengan baik. Lisa benar-benar mendedikasikan dirinya. Ia terjun langsung ke lapangan. Mulai dari proses registrasi, design, mencari sponsor, berhubungan dengan media, Kementerian dan Pemda. Dia bahkan mendatangi setiap Lembang (Desa) yang akan dilalui pelari agar murid-murid sekolah berkontribusi menyemangati pelari dengan musik, tarian tradisional dan lainnya.

Baca Juga  29 Juli Toraja International Marathon Digelar, Ikutan Yuk!

Lisa juga aktif memperjuangkan apa yang dia yakini benar dan patut diperjuangkan seperti menjadi relawan Ahok maupun Jokowi. Di antara relawan Ahok maupun  Jokowi, Lisa termasuk front liner. Dia siap membantu. Lisa adalah saksi hidup perjuangan Ahok maupun Jokowi.

Berkat ketekunan dan perjuangannya, mimpi Lisa akhirnya tercapai, Lisa menerima undangan menghadiri pelantikan pasangan  Jokowi- Ma’ruf Amin sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI. Lisa sungguh sangat bahagia. Walaupun pada saat itu, penyakit kanker payudara sudah bermutasi ke paru-paru. Lisa dan suaminya Roni, tetap semangat menghadiri acara pelantikan presiden. Dengan membawa tabung oksigen dan duduk di kursi roda. Adalah momen yang dia tunggu-tunggu ketika  akhirnya Lisa  berjabat tangan dengan Pak Jokowi. Pada momen itu, Lisa menyampaikan permintaannya kepada presiden. Sangat simple dan mudah diingat. Lisa mengatakan “Pak, titip Toraja ya” dan Pak Jokowi mengiyakan sambil menyebut kata Toraja, Toraja beberapa kali.

Sungguh pesan yang sangat mulia, di saat sakitnya dan hanya dengan waktu 10 detik, dia hanya menitipkan kampung halaman tercintanya kepada Jokowi yang dilantik menjadi presiden.

Lisa pernah berkata, arti sebuah kehidupan bukan dari kuantitas tetapi kualitas hidup yang terpenting. Sependek apapun hidup yang Tuhan berikan kerjakanlah dengan sepenuh hati. Motto Lisa yaitu ‘I will Live Life Full’ . Hidup Lisa singkat tapi benar solid. Dia sudah melakukan banyak hal, dalam rentang waktu usia yang tidak banyak.

Selain itu Lisa adalah orang yang punya prinsip hidup dan jika dia yakin dengan pilihannya, dia akan bela sepenuh hatinya.

Sungguh rencana Tuhan, dimana tidak disangka Pak Basuki Tjahaja Purnama (BTP) memilih menjadi anggota di gereja tempat Lisa beribadah. Keduanya kian akrab. Karena  mempunyai visi dan misi yang sama. Pak BTP  beberapa kali menghubungi Lisa.

Awal Januari tahun 2020, Lisa berlibur bersama keluarga kecil dan kakaknya, Dayana. Lisa sudah merasakan sakit begitu tiba di Amsterdam, dan sempat dirawat di RS selama seminggu. Lisa  tak pernah menunjukan bahwa dia sedang sangat sakit. Selalu bersukacita, berfoto dan menikmati liburannya. Lisa mengunggah foto liburan bersama keluarganya di akun Facebooknya. ” Sungguh moment indah terakhir bersama Lisa, yang tidak terlupakan,” kata Dayana.

Sepulang dari liburan, Lisa tetap disiplin berjuang melawan penyakitnya dengan mengikuti anjuran dokter untuk chemo dan radiasi.

Semangat hidupnya terus membara untuk juga memberi contoh terbaik kepada teman-teman seperjuangan dan keluarga dalam menghadapi sakit dan yang dia rasakan. Tapi rupanya Tuhan menginginkan lain. Setelah sempat merayakan hari Ulang tahun Perkawinan pada  25 Februari, Lisa di panggil menghadap Tuhan esok harinya dalam damai.

Selamat jalan Lisa. Rest in peace!

Penulis: Dayana Parantean
Editor: Stepanus Bo’do’

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *