Mengajar dari Rumah ke Rumah; Cara Guru di Toraja Ini Mengakali Minimnya Fasilitas Belajar Daring

  • Whatsapp

Kebijakan belajar daring (dalam jaringan) atau online menggunakan fasilitas internet selama masa pandemi Covid-19 dinilai tidak efektif. Selain karena kondisi setiap daerah berbeda (tidak semua daerah memilik fasilitas internet, juga tidak semua siswa mampu memiliki hanphone atau laptop), penyerapan bahan pembelajaran oleh siswa juga tidak seperti bila menggunakan metode tatap muka.

KAREBATORAJA.COM, SANGALLA’ UTARA — Sejak awal April 2020, Zetri Pati Kupang, Guru Kelas IV, SDN 272 Inpres Rantela’bi, Kecamatan Sangalla’ Utara, Tana Toraja, berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengajar siswanya.

Mulanya, cara atau metode mengajar dari rumah ke rumah yang dilakukan oleh Zetri ini diprotes oleh beberapa pihak, termasuk oleh rekan-rekannya sesame guru. Apalagi, saat itu, pemberitaan mengenai wabah virus Corona sedang gencar-gencarnya. Pun saat itu, sekolah diliburkan dan siswa diminta belajar di rumah.

Bacaan Lainnya

Baca Juga  10 Agustus SMP-SMA/SMK di Toraja Utara Mulai Belajar Tatap Muka

Namun karena kondisi siswa dan orang tua sebagian besar tidak bisa melaksanakan sistem pembelajaran online, Zetri pun tetap menjalankan metode “mengajar dari rumah ke rumah” ini, empat kali seminggu.

“Waktu mulai kebijakan siswa harus belajar dari rumah, saya bingung bagaimana mau mengajar siswa secara online, kalau siswa saya rata-rata tidak punya HP android? Akhirnya saya berinisiatif bergerak sendiri. Sempat saya hampir menyerah karena waktu itu tidak ada dukungan dari teman bahkan ada yg bilang tidak boleh mengajar begitu. Untungnya sekarang setelah masuk tahun ajaran baru justru rekan-rekan guru dan kepala sekolah mulai mendukung,” ujar Zetri saat dikonfirmasi karebatoraja.com soal aktifitas mengajarnya, Senin, 3 Agustus 2020.

Metode mengajar dari rumah ke rumah ini dilakukan Zetri Pati Kupang dengan tidak mengabaikan protokol kesekatan. Dalam satu kali pertemuan di rumah siswa, maksimal jumlah siswa yang hadir tiga orang. Memakai masker dan menjaga jarak adalah syarat utama.

Baca Juga  OPINI: Belajar Daring; Antara Cinta dan Realita

“Tergantung kondisi rumah siswa, kalau di rumah itu hanya satu siswa, ya satu orang saya ajar. Kalau di dekatnya ada siswa lain, maka saya gabung mereka, maksimal tiga orang dalam satu kali pertemuan,” terang Zetri.

“Saya gabung maksimal tiga orang itu juga untuk mematuhi protokol kesehatan, kalau harus satu-satu siswa tiap pertemuan, akan mengakibatkan ada siswa yang tidak kebagian pembelajaran dalam seminggu,” ujarnya lebih lanjut.

Setiap pergi mengajar dari rumah ke rumah, Zetri selalu menggendong tas ransel, yang berisi banyak peralatan mengajar, media pembelajaran, laptop, buku-buku, serta bekal makan dan minum.

“Awalnya saya hampir nyerah (menyerah) karena jarak antara rumah siswa yang satu dengan yang lainnya berjauhan. Ada yang harus jalan kaki naik gunung. Tapi demi tugas dan kewajiban kita mencerdaskan anak bangsa, ya, saya semangat dan sampai saat ini masih saya jalani praktek mengajar dari rumah ke rumah ini,” katanya.

Baca Juga  Bantu Siswa Belajar Daring, Dua Lembang di Bittuang Adakan Jaringan Internet

Berkat kerja kerasnya yang tak kenal lelah, Zetri mendapat apresiasi dari orang tua siswa dan masyarakat setempat. Bahkan ada donatur yang mau menyumbangkan biaya untuk pengadaan alat pembelajaran bagi siswanya yang kurang mampu. Donatur yang tidak mau menyebut namanya itu (hanya inisial YLP), memberikan bantuan untuk mendukung proses pembelajaran siswa di tengah pandemi Covid-19.

“Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk ibu/saudara YLP dan teman-temannya atas bantuannya kepada 2 siswa saya yang kurang mampu. Ini sangat besar artinya bagi mereka, bukan hanya jumlahnya tapi sebuah perhatian kepada mereka yang kebetulan kurang mampu dari segi ekonomi,” ujar Zetri mengakhir perbincangan.

Sebagai informasi tambahan, hingga Selasa, 4 Agustus 2020, siswa TK hingga Perguruan Tinggi di Tana Toraja masih menjalani sistem pembelajaran online. (*)

Penulis: Arthur
Foto: Zetri Pati Kupang, Guru Kelas IV, SDN 272 Inpres Rantela’bi, Kecamatan Sangalla’ Utara, Tana Toraja, mengajar di rumah salah satu siswanya. (dok. Pribadi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *