Ma’toding, Tradisi “Saweran” Versi Toraja

  • Whatsapp

KAREBATORAJA.COM, SA’DAN — Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Saweran” berasal dari kata dasar “Sawer”, yang berarti penonton memberi sesuatu kepada pemain (pada pertunjukan keliling, seperti kuda kepang atau topeng.

Namun kata ini kemudian mengalami pergeseran, terutama di kalangan penggemar musik dangdut. Sehingga dikenalah istilah “Saweran”, yang berarti memberi tip kepada penyanyi dangdut. Karena pergeseran pengistilahan ini pula membuat kata “Sawer” kemudian dianggap berkonotasi negatif.

Bacaan Lainnya

Di kalangan masyarakat suku Toraja, terutama yang berdiam di bagian utara, terdapat pula tradisi, yang mirip dengan “Saweran” ini, yakni Ma’toding.

Baca Juga  Demisioner, Ini Harapan Pengurus PPGT Lama kepada Pengurus Baru

Tidak ada kamus khusus yang menjelaskan arti atau makna tradisi Ma’toding ini. Yang jelas bahwa, Ma’toding biasanya dilakukan oleh kerabat atau keluarga kepada para penari (terutama tari Pa’gellu) dalam acara syukuran rumah adat Tongkonan, yang dalam masyarakat Toraja dikenal dengan istilah Mangrara Banua.

Seperti yang terlihat pada acara Mangrara Banua Tongkonan Ne’Rose di Kalumpang, Balusu, Toraja Utara, beberapa waktu lalu. Seorang gadis cantik yang menarikan tari Pa’gellu, disawer oleh sanak keluarga dan handai taulan yang hadir. Banyak anggota keluarga yang hadir dalam acara tersebut membuat kepala sang penari dalam sekejab dipenuhi uang lembaran seratus ribuan dan lima puluh ribuan. Tradisi “Saweran” versi Toraja ini memang kerap mengundang decak kagum, karena uang yang digunakan untuk sawer jumlahnya bisa mencapai jutaan rupiah.

“Ma’toding ini merupakan tradisi yang diwariskan turun temurun sebagai perwujudan dan ungkapan rasa syukur dan suka cita keluarga dan kerabat yang mengadakan acara rambu tuka  atau acara syukuran, seperti Mangrara Banua,” ungkap Natan, seorang anggota keluarga Tongkonan Ne’Rose kepada karebatoraja.com.

Baca Juga  Karang Taruna Toraja Utara Bantu Panti Asuhan Tangmentoe

Natan menjelaskan, dalam rangkaian upacara ini ditunjuk beberapa orang keluarga yang mewakili masing-masing rumpun keluarga untuk melakukan tarian Pa’gellu. Tarian ini khusus dilakukan dalam upacara seperti ini, gerakannyapun tertentu.

Lanjut Natan bercerita, saat sang penari memperagakan tariannya maka seluruh anggota keluarga dan para tamu yang datang akan memberi semacam saweran atau disebut Ma’toding berupa uang yang dilakukan dengan cara masing-masing.

“Ini adalah simbol kebanggaan Toraja dan keberhasilan rumpun keluarga,” katanya.

Berdasarkan beberapa sumber yang dihimpun karebatoraja.com, tradisi Ma’toding ini sudah dikenal sejak masyarakat suku Toraja mengenal mata uang. Ditambah lagi saat tari Pa’gellu mulai dilakukan oleh masyarakat dari bagian pegunungan (Rindingallo dan sekitarnya) dalam upacara syukuran rumah, Ma’bua’.

Baca Juga  Dewan Minta Pemkab Toraja Utara Segera Bayar Uang Makan ASN

Berbeda dengan beberapa daerah lain, saweran khas Toraja ini dilakukan dengan cara yang sopan dan terhormat. Keluarga atau orang yang hendak melakukan sawer (Ma’toding) akan menaruh uang (biasanya uang kertas) diantara hiasan kepala sang penari. Lebih sopan lagi, biasanya uang pecahan seratus ribu atau lima puluh ribu disusun pada sebatang lidi atau bambu yang diraut kecil, kemudian diselipkan di kepala sang penari.

Tradisi Ma’toding ini hampir sama dengan tradisi Kosu di pulau Timor, tempat ibukota provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Bedanya, masyarakat suku Amarasi di pulau itu, memberikan saweran kepada pengantin perempuan, sesaat setelah menikah, bukan kepada penari. Caranya sama, menyelipkan uang kertas di kepala sang mempelai perempuan. (Herson Pasuang)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *