Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan Toraja Utara Ditahan Kejaksaan

  • Whatsapp
Satgas Pemberantasan Korupsi Kejari Makale menggeledah kantor Badan Ketahanan Pangan Toraja Utara untuk mencari bukti tindak pidana korupsi, beberapa waktu lalu.

MAKASSAR — Mantan Kepala Badan Ketahanan Pangan Toraja Utara, YP, ditahan Kejaksaan Negeri Makale di Lembaga Pemasyarakatan Makassar, Rabu, 8 Februari kemarin. YP ditahan dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan bibit tanaman pekarangan pada Badan Ketahanan Pangan Toraja Utara tahun 2013 senilai Rp1,1 milyar.

Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Makale, Amri Kurniawan, yang dikonfirmasi karebatoraja.com, Kamis, 9 Februari 2017, membenarkan penahanan itu. “Yang bersangkutan diperiksa sebagai tersangka kemarin dan langsung dilakukan penahanan,” jelas Amri.

Bacaan Lainnya

Baca Juga  Partai Nasdem Rekomendasikan Rinto-Yonathan di Pilkada Toraja Utara

Amri menjelaskan, saat ini, YP ditahan bersama dengan tersangka lain dalam kasus ini, yang saat ini sudah jadi terdakwa dan menjalani persidangan di pengadilan tindak pidana korupsi Makassar.

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri Makale sudah menahan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) proyek pengadaan bibit tanaman holtikultura tahun 2013, Damaris. Damaris kini menjadi terdakwa dan disidang di pengadilan Tipikor Makassar.

“Yang bersangkutan (YP) ditahan di Makassar bersama dengan terdakwa lainnya yang saat ini menjalani proses persidangan,” kata Amri.

Dijelaskan penahanan YP berkaitan dengan dugaan tindak pidana korupsi pengadaan bibit di Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Toraja Utara tahun 2013.

“Perkara ini masih terus kami kembangkan, karena dana yang dikorupsi dinikmati beberapa orang. Dalam waktu dekat nanti akan ada tersangka lagi. Nanti akan kami release, saat ini belum dapat release guna pendalaman penyidikan,” urai Amri Kurniawan.

Baca Juga  Wabup Tana Toraja Tidak Akan Berdamai dengan Kadis PU Provinsi Papua

Dijelaskan, kasus dugaan korupsi pengadaan bibit tanaman holtikultura itu terjadi pada tahun 2013 yang lalu. Total anggaran yang digunakan dalam proyek tersebut sebesar Rp1,1 miliar yang bersumber dari APBD Toraja Utara tahun 2013. Dari hasil pemeriksaan diduga kuat proyek itu fiktif sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp600 juta. (Jufri Tonapa)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *