Jejak Perjalanan Budaya RD Aidan PS di Situs Sa’pak dan Pasa’bongi Sarira

  • Whatsapp

TORAJA mempunyai rangkaian pengunungan batu yang elok menawan. Terbentang dari bagian selatan sampai ke utara. Rangkaian pegunungan itu menjadi benteng alam sekaligus menyimpan berbagai jejak sejarah berupa situs-situs peradaban masyarakat Toraja.

Jikalau kita menuju ke arah wilayah Sangalla’, kita berjumpa dengan banyak peninggalan jejak sejarah peradaban leluhur. Salah satunya adalah daerah di mana situs Sa’pak Bayo-bayo berada.

Bacaan Lainnya

Dalam buku kenangan Mgr. John Liku-Ada’ yang ditulis oleh Budi Sutedjo dan Maria Herjani dengan judul Illum Oportet Crescere dilukiskan dengan sangat baik situs Sa’pak sebagai simbol perlindungan dan penjaga negeri. Ayah Mgr. John Liku-Ada’ adalah “penjaga ritus suci” Sa’pak Bayo-bayo ini. Situs Sa’pak Bayo-bayo sendiri berada di wilayah Lampio, Sangalla.’ Kapuangan (Kerajaan) Sangalla’ dikelilingi oleh empat wilayah yang berfungsi sebagai benteng. Wilayah bagian Barat Daya dijaga oleh Boto’ yang bergelar Bulian Massa’bu (Sumpit Beribu) atau Doke Mangriu (Tombak Seribu), wilayah bagian Tenggara dijaga oleh Tokesa yang bergelar Palasa Makati’ (Pundak Gatal) atau Tanduk Beuaran (Tanduk Beracun), wilayah Timur Laut dijaga oleh Leatung yang bergelar Rinding Daun Induk (Dinding Daun Enau) atau Sapan Kua-kua (Bendungan Kua-kua), dan wilayah Barat Laut dijaga oleh Lampio dengan gelar Guali Bassi (Kuali Besi) atau Ba’ba Lumuran (Pintu Berlumut) yang menempatkan Lampio sebagai pintu yang sulit didobrak. Posisi Lampio di mana situs Sa’pak berada menjadi pintu masuk ke Kapuangan Sangalla.’ Pintu itu akan menjadi Guali Bassi atau Ba’ba Lumuran yang akan menahan pihak yang berniat jahat ingin masuk ke dalamnya. Sebaliknya mereka yang berniat baik akan diterima dengan penuh keramahan melalui Lampio. Demikianlah pentingnya peran sebuah benteng untuk membendung dan mencegah unsur yang jahat memasuki wilayahnya (lih. Budi Sutejo & Mari Herjani, Illum Oportet Crescere, 2019, hlm. 3).

Baca Juga  Foto Pesona Puncak Gunung Parimata di Randanbatu

Selanjutnya, jikalau kita beranjak sedikit ke utara, kita akan berjumpa dengan rangkaian pengunungan yang indah dengan jejak sejarah perjuangan masyarakat Toraja dalam melindungi dan mempertahankan daerahnya. Rangkaian pengunungan itu adalah Buntu Sarira. Pengunungan itu terbentang sepanjang daerah Tallung Penanian dari sisi sebelah Timur yang meliputi wilayah Balik-Bokko, Tambunan-Manggape dan Randanbatu-Mengguliling. Di wilayah pegunungan ini kita akan menjumpai jejak sejarah “To Pada Tindo.” Sejarah “To Pada Tindo” (artinya: orang yang satu impian) adalah sejarah perjuangan orang-orang Toraja melawan dan mengusir invasi dari luar pada pertengahan abad ke-17. Perjuangan “To Pada Tindo” itu inisiasi oleh Pong Kalua’ atau Lamangga’ dari Randanbatu, Songgoi ri Limbu dan Tominaa Ne’ Sanda Kada yang terjadi pada tahun 1675 dan berhasil membebaskan seluruh wilayah Toraja dari penjajahan kerajaan Bone pada tahun 1680 yang ditandai dengan perjanjian Basse Kasalle (lih. L. Tangdilintin, Toraja dan Kebudayaan, 1980, hlm. 57-68; bdk. artikel dari penulis “Pesona Puncak Gunung Parimata di Randanbatu”, (karebatoraja.com).

Jejak sejarah “To Pada Tindo” itu bisa kita temukan mulai dari Lembang Randanbatu, Kecamatan Sanggalangi’, Kabupaten Toraja Utara sampai ke Lembang Tumbang Datu, Kecamatan Sanggalla’ Utara, Kabupaten Tana Toraja. Di Randanbatu, kita bisa menyusuri jejak makam Pong Kalua’ dan Gunung Parimata serta daerah Manggayo yang menjadi wilayah kekuasaan Pong Kalua.’ Beranjak ke Selatan, kita akan menemukan Pasa’ Bongi di Sarira yang diyakini sebagai tempat pertemuan rahasia “To Pada Tindo” menyusun strategi melawan dan menghalau musuh dari luar. Pasa’ Bongi Sarira berada di Lembang Tumbang Datu, Kecamatan Sangalla’ Utara, Kabupaten Tana Toraja. Di situs Pasa’ Bongi Sarira terdapat sebuah tempat agak datar dengan sumur batu. Ada jalan rintisan ke arah situs itu, namun situs itu sendiri sekarang ini tidak terkelola dan terpelihara dengan baik. Situs Pasa’ Bongi Sarira sebagaimana diceritakan oleh Ibu Adri Linda, staf di Kantor Lembang Tumbang Datu, ditandai dengan sumur batu yang tidak pernah kering airnya. Keistimewaan situs itu adalah dikelilingi oleh bukit batu karang yang berdiri kokoh sebagai benteng pertahanan. Situs Pasa’ Bongi sendiri kiranya masih membutuhkan penelusuran lebih jauh dan akurat sebagai tempat pertemuan “To Pada Tindo” dan mengaitkannya dengan versi dari Randanbatu tentang kisah Pong Kalua’ sendiri. Namun terlepas dari kepastian situs itu, daerah Tumbang Datu sendiri dengan alam pengunungan batu basalt-nya menyimpan keelokan tersendiri.

Baca Juga  Hina Keluarga Bandaso, Lelaki Ini Dijatuhi Sanksi Adat dengan Menggelar Ritual Ma’tada’

Perjalanan menyusuri bukit batu di Sarira, Tumbang Datu, menawarkan khazanah alam yang indah sekaligus daerah di mana tradisi leluhur masih dijaga, dipelihara dan dihayati dengan sangat baik. Selain perkampungan tradisional dengan deretan rumah adat Toraja dan lumbung-lumbung padi, kita juga akan menemukan pegunungan yang mudah didaki dengan hamparan keindahan alam. Salah satunya adalah Gunung Kapolang yang berjejer dengan Gunung Katek pada ketinggian sekitar 1000 mdpl di mana kita bisa melihat dengan jelas hamparan pemandangan wilayah Sangalla’ bagian Utara sampai ke daerah La’bo di Toraja Utara. Rangkaian gunung batu yang terbentang luas menjulur ke Utara diakhiri dengan sebuah bukit batu yang terletak terpisah dari deretan pegunungan itu. Gunung batu itu adalah Buntu Asa di daerah La’bo’. Guru saya di SD Randanbatu dulu mengisahkan bahwa Buntu Asa adalah ujung dari Buntu Sarira atau pegunungan batu yang membentang di wilayah Toraja. Menurut kisah  orang-orang Toraja, pegunungan batu itu diyakini sebagai reruntuhan dari Eran diLangi yang diruntuhkan oleh Puang Matua ketika Ia marah atas pelanggaran manusia. Eran diLangi’ dalam kisah Pong Lalondong adalah tangga menuju ke surga tetapi karena dosa manusia akhirnya tangga surgawi itu diruntuhkan dan reruntuhannya menjadi rangkaian pegunungan batu di Toraja.

Baca Juga  Protes Jalannya Rusak, Warga Tallung Penanian Tanam Pohon Pisang Di Jalan

Situs yang tak kalah penting dan menarik di Lembang Tumbang Datu adalah situs Sudu-sudu yaitu lokasi tempat menyelenggarakan Upacara Ma’ta’da. Ritual Ma’ta’da adalah ritual peninggalan leluhur orang Toraja untuk memohon doa dan berkat dari para leluhur yang sudah meng-Ilahi (To Membali Puang) supaya tetap menjaga anak-cucunya yang masih berziarah di dunia ini dan seluruh wilayah kediaman dilindungi, dijaga dan diberkati oleh para leluhur yang sudah berbahagia itu. Di wilayah ini juga dikenal adanya prosesi Lantang Pangngan dalam upacara kematian orang yang meninggal di usia masih muda. Lantang Pangngan sendiri adalah ornamen berbentuk miniatur rumah dengan hiasan macam-macam motif yang indah yang merupakan ungkapan kerinduan dan harapan keselamatan dari para sahabat dan keluarga yang berduka. Prosesi Ma’lantang Pangngan diadakan pada malam hari dalam keheningan malam dengan iringan To Ma’retteng yang mengidungkan syair kedukaan. Situs-situs penting tentang jejak sejarah dan peradaban leluhur masih tetap terjaga dan terpelihara di Lembang Tumbang Datu dengan bentangan alam dan perkampungan tradisional yang indah menawan. Oleh karen itu, memandang dari jauh rangkaian pengunungan batu yang membentang luas senantiasa membawa harapan dan kegembiraan akan keelokan daerah Toraja sekaligus simbol pemeliharaan dan perlindungan yang Mahakuasa dari segala hal-hal yang buruk dan jahat.

Dengan mencintai dan melestarikan alam ciptaan Tuhan ini serta mengenal dan merawat situs dan tradisi warisan para leluhur kita, kita dipanggil dan dituntun menemukan tangan kasih Tuhan dan rencana-Nya yang indah dalam perjalanan kehidupan kita ini. Mari kita mencintai dan merawat alam yang indah di Toraja ini sekaligus menjaga dan memelihara warisan leluhur kita. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *