Harapan di Tengah Wabah Covid-19; Tuhan Selalu Ada!

  • Whatsapp

(Renungan Pekan Suci dan Paskah 2020)

“Tuhan tak pernah janji
langit selalu biru
tetapi Dia berjanji
selalu menyertai

Tuhan tak pernah janji
jalan selalu rata
tetapi Dia berjanji
berikan kekuatan

Bacaan Lainnya

Jangan pernah menyerah
jangan berputus asa
mukjizat Tuhan ada
saat hati menyembah

Jangan pernah menyerah
jangan berputus asa
mukjizat Tuhan ada
bagi yang setia dan percaya…”

Lirik lagu “Jangan Pernah Menyerah” ini dinyanyikan oleh seorang pastor, sahabatku, dari Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Italia. Dia membuat terjemahannya berupa teks dalam bahasa Italia. Dia membagikannya lewat media sosial (facebook: Palma Adi Hantono; youtube: http://youtu.be/XYO7xkfkurY).

Aku tersentuh mendengarnya. Dengan suaranya yang merdu, dia seolah meratapi situasi panit nan sulit ini. Tetapi di balik semua peristiwa kelam ini, selalu ada harapan dan kekuatan dalam Tuhan. Kita dipanggil untuk tidak pernah menyerah. Tidak pernah berputus ada. Tuhan selalu ada dan mukjizat-Nya nyata bagi setiap orang yang setia dan percaya.

Lagu ini sendiri dipopulerkan oleh Edward Chen dan putranya Justin Faith Chen. Dengan sangat baik, lagu ini mengungkapkan kesulitan dan penderitaan hidup. Namun di balik semua derita itu, kita tidak boleh menyerah dan putus asa. Lagu ini menjadi seperti sebuah doa di tengah pandemik virus corona saat ini. Kita sadar bahwa di balik pergumulan hidup yang berat dalam situasi ketidakpastian seperti sekarang ini, kita sandarkan semua harapan kita kepada mukjizat Tuhan. Kita dipanggil untuk menyikapi situasi ini dengan bijaksana seraya meletakkan harapan sepenuhnya kepada Dia yang Maharahim. Sekarang ini kita berada dalam situasi sangat sulit. Kita harus tetap tinggal di rumah, membuat social distancing. Tempat tinggal dan lingkungan kita disemprot dengan cairan disinfektan untuk mensterilkannya. Kita pun diajak untuk menjaga kesehatan kondisi tubuh dan mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir. Namun yang paling menyedihkan adalah kita tidak boleh berkumpul di Gereja merayakan Pekan Suci yang memuncak dalam Perayaan Paskah.

Perayaan Pekan Suci diawali dengan Perayaan Minggu Palma sampai pada hari Minggu Paskah. Sebelum Pekan Suci, kita menjalani masa Prapaskah yang berlangsung selama 40 hari terhitung dari hari Rabu Abu sampai hari Kamis dalam Pekan Suci itu. Pada hari Rabu Abu, kita menerima tanda abu pada dahi sebagai tanda pertobatan. Masa Prapaskah adalah masa “retret agung” di mana umat beriman dipanggil untuk menjalani laku tapa berupa pantang-puasa, doa dan amal kasih. Selama empat puluh hari, kita mempersiapkan diri supaya layak dan pantas merayakan peristiwa iman yaitu Kristus yang bangkit mulia dalam Perayaan Hari Raya Paskah. Sekarang kita memasuki perayaan Pekan Suci. Perayaan ini diawali dengan mengenang Yesus memasuki kota suci Yerusalem. Saat Yesus masuk kota itu, umat menyambutnya dengan bersorak-sorai sambil melambaikan ranting-ranting dan daun-daun palem (bdk. Yoh. 12:12-16 par). Peristiwa inilah yang dirayakan dalam Hari Raya Minggu Palma.

Baca Juga  Begini Serunya Perayaan Paskah Lansia di Jemaat Sereale

Setelah Minggu Palma, kita pun merayakan Trihari Suci, yaitu Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Suci. Tiga rangkaian perayaan ini memiliki makna perayaan agung akan karya keselamatan Allah melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus. Perayaan Kami Putih merayakan kenangan Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama dengan para murid-Nya. Perjamuan itu bukanlah perjamuan kesedihan atau keputusasaan melainkan sebuah ungkapan agung dari penyerahan diri Yesus secara total melalui pengorbanan Tubuh dan Darah-Nya (1 Kor 11:23-26). Peristiwa ini menjadi cikal bakal lahirnya Perayaan Ekaristi dalam tradisi Gereja. Pemberian diri Yesus secara total disempurnakan dengan amanat perintah kasih. Para murid Yesus dipanggil untuk saling mengasihi, saling melayani dan merendahkan diri satu akan yang lain (bdk. Yoh. 13:1-15). Hal ini diungkapan dengan sangat baik dalam ritual pembasuhan kaki. Selanjutnya, perayaan Jumat Agung adalah perayaan puncak sengsara dan wafat Yesus Kristus. Dalam perayaan ini, kita mengenangkan saat-saat Yesus menderita dan sengsara dalam “via dolorosa” (jalan salib) menuju puncak Kalvari. Drama kisah sengsara Yesus Kristus ini atau “passio” biasanya dituturkan, dikidungkan atau didramakan dalam liturgi Jumat Agung (Yoh. 18:1 – 19:42). Dalam perayaan ini tidak ada misa kudus karena Kristus wafat. Maka sebagai ungkapan penghormatan dan cinta kepada Kristus yang wafat itu, diadakan prosesi penciuman salib.

Setelah merayakan perjamuan cinta kasih Yesus Kristus dalam perayaan Kamis Putih dan mengenang peristiwa sengsara dan wafat-Nya dalam perayaan Jumat Agung, maka rangkaian perayaan Trihari Suci dilanjutkan dengan perayaan Sabtu Suci. Perayaan ini adalah perayaan puncak dan paling kudus. Melalui perayaan ini, umat beriman dituntun pada sebuah perayaan agung merayakan karya-karya ajaib Tuhan Allah bagi umat-Nya dimulai dari kisah penciptaan sampai pada karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus yang bangkit mengalahkan kekuasaan maut dan dosa. Perayaan Sabtu Suci diawali dengan upacara vigili (upacara cahaya) di luar gedung Gereja. Selanjutnya perayaan di dalam Gereja ditandai dengan membacakan Kitab Suci mengenai rangkai karya keselamatan Allah dalam sejarah umat manusia yang memuncak dalam peristiwa kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Perayaan malam Paskah juga ditandai dengan upacara sakramen baptis dan pembaharuan janji baptis setiap umat beriman.

Baca Juga  BERITA FOTO: Deklarasi Toraja Masero dengan Tagline "LISA" Warnai Kemeriahan Pawai Obor di Makale

Sebagaimana dahulu kala umat Perjanjian Lama melintasi “Laut Merah” memasuki tanah terjanji, demikian pun umat beriman sekarang ini melewati “sakramen baptis” menuju tanah air surgawi. Maka perayaan Sabtu Suci dan Hari Minggu Paskah adalah puncak perayaan keselamatan kita. Kita merayakan kebangkitan mulia Yesus Kristus dari alam maut membawa terang kehidupan dan keselamatan kepada semua orang.

Ketika kita merayaan perayaan Pekan Suci, kita mengalami situasi sulit dan gamang. Kita harus tinggal di rumah mengikuti rangkaian perayaan iman itu melalui saluran TV baik lokal, nasional maupun internasional, live streaming atau sarana media sosial lainnya. Perayaan ini di satu sisi tidak biasa bagi kita, tetapi di sisi lain, hal ini tidak mengurangi makna penghayatan iman kita akan misteri karya penyelamatan Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus.

Kisah sengsara Yesus Kristus menarik kita refleksikan lewat kisah di Taman Getsemani. Di sana, Yesus mengalami situasi sulit, pahit dan tak berdaya sebagaimana dikisahkan oleh sang penginjil Markus, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggalah di sini dan berjaga-jagalah” (Mrk. 14:34). Dia pun terpekur dalam hening doa pasrah, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini berlalu daripadaku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39).

Di sini kita bisa melihat bahwa Yesus pun disergap oleh penderitaan yang hebat. Cawan kesengsaraan yang harus Dia pikul terlalu berat bagiNya. Dia jatuh dalam keputusaan dan hampir menyerah dengan berkata, “biarlah cawan ini berlalu daripadaku.” Yesus, sang Putra Allah, sampai pada titik nadir penderitaan itu. Namun Dia sadar bahwa bukan hanya kekuatan-Nya sendiri yang Dia andalkan menghadapi semua beban derita itu. Dia bersandar pada kasih Allah Bapa yang akan menyertai-Nya menanggung sengsara ini. Dia pun memasrahkan semua pergumulan hidup-Nya dengan berseru, “tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Kita tahu bahwa Yesus adalah Putra Allah yang penuh kuasa. Namun dalam kisah di Taman Getsemani itu, Yesus juga memperlihatkan secara jelas sisi kemanusiaan-Nya yang merasakan penderitaan dan keputusasaan seperti manusia biasa. Inilah solidaritas dari Yang Ilahi dalam diri Yesus Kristus.

Dalam situasi sulit, Yesus tidak lari, tetapi berpasrah secara total dalam doa. Hal ironis bisa kita temukan dalam kisah Yesus dan tiga murid yang menemani-Nya di Taman Getsemani. Tiga murid itu adalah Simon Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya. Mereka tiga kali diingatkan oleh Yesus untuk berjaga dan berdoa dalam situasi sulit itu. Yesus pun berpesan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut tetapi daging lemah” (Mrk. 14:38). Tetapi apa yang terjadi, para murid itu jatuh tertidur dan tidak berdoa. Sementara Yesus berpasrah dalam doa kepada Bapa. Akibatnya ketika tiba saat Yesus ditangkap, ketiga murid itu lari ketakutan. Sementara Yesus tenang menghadapi semuanya.

Baca Juga  Jangan Kaget, Ketua Umum Panitia Paskah Nasional 2018 Beragama Islam

Kisah ini mengajak kita untuk setia meneladan Yesus dalam situasi sulit. Kendatipun cemas dan takut melanda hidup kita, tetapi kita tidak boleh menyerah, tidak boleh berputus asa, melainkan berpasrah dalam doa. Dalam doa, Yesus mendapatkan kekuatan dan harapan untuk menghadapi situasi sulit hidup ini. Sang penginjil mengisahkan bahwa “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Luk. 22:44). Saat Yesus berdoa peluh-Nya seperti titik-titik darah mengungkapkan sebuah pergumulan hidup yang berat. Namun di balik pergumulan itu ada tangan kasih Allah hadir atas diri-Nya melalui malaikat yang datang memberikan Dia kekuatan.

Belajar dari kisah Yesus dan memaknai peristiwa sengsara-Nya, kita diajak bahwa kepasrahan dalam doa (secara pribadi) menjadi harapan dan kekuatan kita merayakan Pekan Suci ini. Makna dan nilai karya keselamatan Allah melalui peristiwa Paskah Yesus Kristus tidak akan pernah mengurangi iman dan harapan kita merayakan peristiwa agung nan mulia itu. Doa-doa kita selalu disatukan dengan doa Gereja Universal sendiri.

Semoga seperti Yesus Kristus mengalami penderitaan, sengsara dan wafat kemudian bangkit mulia, kita pun tidak pernah menyerah, berputus asa merayakan Pekan Suci dan Paskah mulia di tengah kepungan wabah covid-19 ini. Kita berharap perayaan Paskah yang kita rayakan menghadirkan terang Kristus untuk menghalaukan kegelepan pandemik virus corona ini. Kita percaya bahwa “after darkness, light is born” (habis gelap terbitlah terang). Semoga terang kebangkitan Kristus memberi kita harapan, kekuatan dan keteguhan iman dalam merayakan perayaan Pekan Suci dan Paskah mulia sebagai perayaan puncak keselamatan iman kita, kendatipun kita harus merayakan dari rumah kita masing-masing. Selamat Merayakan Hari Raya Paskah. Tuhan menyertai kita!

Pastor Aidan P. Sidik — Penulis adalah imam diosesan Keuskupan Agung Makassar. Staf Seminari Tahun Rohani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *