FOTO Jembatan Alam Nan Eksotik “Tete Litak” di Batualu

  • Whatsapp

KEINDAHAN ALAM dan keunikan alam Toraja seolah tak ada habisnya menawarkan pesonanya. Ada banyak sudut-sudut keindahan wilayah Toraja yang selalu menghadirkan objek yang sungguh menawan hati.

Jikalau pandemi covid-19 ini berlalu dan kita kembali menikmati situasi normal seperti sedia kala, salah satu sisi keindahan Toraja yang pantas ditengok adalah sebuah jembatan alam nan ekostik, yaitu Tete Litak di Batualu.

Bacaan Lainnya

Tete Litak atau “jembatan tanah” ini tersembunyi dari keramaian dan ada di wilayah yang agak tertutup tetapi menyimpan keelokan tersendiri.

Tete Litak berada di Lembang Batualu, Kecamatan Sangalla’ Selatan, Kabupaten Tana Toraja. Jarak dari Pasar Sangalla ke Tete Litak sekitar 12 km dengan waktu tempuh memakai kendaraan motor atau mobil sekitar 40 menit. Perjalanan ke lokasi Tete Litak setelah turun dari kendaraan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit. Setelah menuruni lereng bukit, kita akan menjumpai lokasi Tete Letak itu.

Penduduk setempat menyebutnya “jembatan” karena merupakan jembatan penyeberangan yang menghubungkan Lembang Batualu dengan Lembang Ta’ba. Keunikan “Tete Litak” atau “jembatan tanah” terletak pada nama yang disematkan padanya. Kala kita mendapat sebuah pertanyaan, “Pernahkah Anda membayangkan sebuah jembatan panjang tanpa konstruksi baja dan beton serta aliran sungai di bawahnya?” Jawabannya, “Rasanya tidak!” Tetapi kalau kita melihat jembatan “Tete Litak” gambaran yang absurb itu menjadi real. Tete Litak adalah sebuah jembatan berupa bentangan punggung bebukitan dari gumuk pasir. Untuk bisa melewati jembatan alam ini, dibutuhkan keberanian ekstra dan skill keseimbangan yang prima. Di bagian tengah “jembatan” itu ada satu bentangan dengan lebar hanya 7 cm di mana sisi sebelah kanan dan sebelah kiri adalah jurang. Melewati bagian itu akan memacu adrenalin naik drastis.

Saban hari mana kala sang senja menjelang tiba di saat mentari perlahan meredup, anak-anak kecil dan remaja akan riang bermain di jembatan tanah “Tete Litak” itu. Mereka seolah menguji nyali dan ketangkasan melewati tantangan alam nan eksotik tersebut. Tak jarang ada yang nekad melewati titian di tebing-tebing yang curam. Tanpa rasa takut sedikit pun mereka menikmati tantangan di sana. Namun bagi mereka yang sudah berumur hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kagum melihat kelincahan anak-anak remaja itu.

Dari bentangan Tete Litak ini kita bisa melihat jauh ke sebelah Utara daerah Pantilang dan di sebelah Selatan adalah daerah Simbuang. Sementara nun jauh di sebelah Tenggara, kita akan menyaksikan puncak Gunung Sinaji yang berdiri kokoh menjulang tinggi sampai di awan-awan.

Jembatan tanah berupa gumuk pasir dari puncak bukit-bukit ini adalah pemandangan alam yang sangat eksotik di wilayah selatan Sangalla.

Membayangkan atau memandang foto-foto keindahan alam Toraja membawa diriku pada pesan profetik dari ensiklik “Laudato Sì” dari Paus Fransiskus. Melalui ensiklik (surat amanat) ini, kita diajak untuk melindungi dan mencintai lingkungan hidup kita. Alam sekitar yang terbentang luas dengan segala keindahannya merupakan tanggung jawab manusia untuk merawat dan memeliharanya. Hal ini sejalan dengan tanggung jawab manusia sesuai pesan Kitab Kejadian yang memanggil setiap manusia dan memberi tugas kepadanya untuk menjaga dan merawat bumi ini ( bdk. Kej. 1:26-28; 2:15).

Salah satu dimensi bumi yang disorot oleh ensiklik ini adalah pentingnya mengatasi perubahan iklim dan melindungi lingkungan hidup. Secara khusus, persoalan lingkungan hidup dengan masalah sampah telah menggerus keindahan alam dan mendegradasi nilai kehidupan manusia. Di berbagai belahan dunia, bahkan di lingkungan sekitar kita sendiri, daerah yang sebelumnya indah telah ditutupi oleh timbunan sampah. Upaya untuk mengatasi masalah itu menuntut pengorbanan dan “revolusi mental” dari setiap insan. Kita semua dipanggil untuk menjaga dan merawat alam ciptaan ini.

Maka di satu sisi, kita bersyukur bisa menikmati begitu banyak sudut dari wilayah Toraja ini yang indah mempesona, namun di sini lain, kita terus-menerus dipanggil untuk menjaga dan memerlihara lingkungan dan alam yang indah ini. Seruan profetik sebagaimana diartikulasikan dalam ensiklik “Laudato Sì” merupakan perwujudan iman untuk menjaga, merawat dan memelihara keindahan alam yang dikaruniakan Sang Pencipta kepada kita semua. Maka, mari bergandengan tangan merawat dan menjaga keindahan alam ciptaan Tuhan di Bumi Lakipadada-Tana Matarik Allo ini. Salam sehat selalu!

Penulis/Foto: RD Aidan PS; Pemerhati Lingkungan Hidup. Tinggal di Sangalla’

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *