Dinas PPA dan P2TP2A Tana Toraja Sayangkan Sanksi Pihak Sekolah Terhadap Pelaku Video Ucapan Tak Senonoh

  • Whatsapp

KAREBATORAJA.COM, MENGKENDEK — Pemerintah Kabupaten Tana Toraja, melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak menyayangkan sanksi yang dijatuhkan pihak SMA Negeri 3 Tana Toraja, terhadap empat pelaku video ucapan tak senonoh, yang heboh di media sosial, beberapa hari lalu.

Untuk diketahui, pasca viralnya video ucapan tak senonoh tersebut, keempat siswa yang ada di dalam video dikenai sanksi pindah sekolah dari almaternya SMA Negeri 3 Tana Toraja.

Bacaan Lainnya

Dinas PPA dan P2TP2A menganggap pemberian sanksi pemindahan siswa ini sebagai langkah yang keliru jika melihat ke dampak psikologi yang akan ditimbulkan dengan sanksi tersebut.

Hal itu ditegaskan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tana Toraja, Pakiding Karaeng Baan, saat berkunjung dan bertemu dengan pihak SMA Negeri 3 Tana Toraja, Sabtu, 20 Juli 2019.

Baca Juga  Kak Seto Puji Kebijakan Pemerintah Tana Toraja di Bidang Pendidikan

Kunjungan Dinas PPA dan P2TP2A ini sebagai langkah pendampingan terhadap para siswa karena keempat siswa ini masih dibawah umur 18 tahun sehingga mereka masih dikategorikan sebagai anak dan wajib dilindungi hak-haknya.

Menurut Karaeng Baan, pemindahan siswa ke sekolah lain bukan solusi, tapi hanya memindahkan masalah. Karaeng justru menganggap sebuah prestasi jika anak ini tetap disini dan berhasil dibina.

Sementara itu, pengurus P2TP2A, Ivonny Mapiley menganggap keempat siswa ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. “Mereka sudah mendapatkan sanksi sosial dari apa yang mereka lakukan tapi bukannya mendapatkan perlindungan mereka justru tidak diberikan haknya untuk belajar dengan baik,” sesal Ivonny.

Meski sanksi sudah diputuskan namun keempat siswa ini belum resmi dipindahkan karena mereka harus mencari sekolah terlebih dahulu yang siap menerima mereka baru pihak SMAN 3 Tana Toraja memberikan surat pindah dan kelengkapan administrasi lain yang dibutuhkan.

Penjelasan Pihak Sekolah

Pasca viralnya video tak senonoh yang dilakukan oleh sejumlah siswa SMAN 3 Tana Toraja beberapa waktu lalu berbuntut sanksi kepada para pelaku. Pihak sekolah telah membericarakan dan memutuskan memberikan sanksi terhadap empat siswa yang diduga pelaku utama dalam video viral tersebut.

Baca Juga  BERITA FOTO: Nurdin Abdullah Ikut Jalan Santai Bersama Umat Katolik Bantaeng

Sanksi yang diberikan adalah mengembalikan keempat siswa tersehut kepada orangtuanya dan meminta orangtua mencari sekolah baru untuk keempat anak tersebut.

Pernyataan ini disampaikan Bagian Kesiswaan SMAN 3 Tana Toraja, Sakaria Do’alang, saat menerima kunjungan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Sabtu, 20 Juli 2019.

Sakaria membantah jika sanksi kepada para siswa adalah Drop Out (DO) atau dikeluarkan, melainkan para siswa diminta pindah dengan tetap dibantu cari sekolah lain.

Sakaria menegaskan jika pemberian sanksi dipindahkan ini sudah sesuai dengan mekanisme dan aturan yang ditetapkan. “Memang ini aturan tegas dan sudah disepakati bersama, Tata tertib sudah final dan sudah sesuai dengan SOP yang ditetapkan,” jelas Sakaria.

Baca Juga  Selama Libur Lebaran Pelayanan Kesehatan di Tana Toraja Tetap Berjalan Normal

Sakaria menjelaskan jika pelanggaran di SMAN 3 Tana Toraja menggunakan sistem poin dan diklasifikasi menjadi 3 yaitu pelanggaran ringan, sedang dan berat, dan keempat siswa yang dipindahkan ini dianggap melakukan pelanggaran berat karena dianggap mencemarkan nama baik sekolah dengan menggunakan atribut sekolah sehingga akumulasi poin pelanggarannya 100 poin dan sudah memenuhi syarata untuk dikembalikan ke orangtua dan mencari sekolah lain.

Namun terlepas dari sanksi yang diatur dalam tata tertib sekolah, hal yang menjadi dasar Sekolah memindahkan ke 4 siswa tersebut karena alasan pembinaan. Pihak sekolah menganggap dengan memindahkan keempat siswa tersebut mereka akan berubah menjadi lebih baik dan tidak lagi jadi bahan bully teman-temannya di SMAN 3 Tana Toraja karena setelah kejadian mereka menjadi bahan bully di sekolah.

Pengembalian keempat siswa ini ke orangtua juga dianggap sebagai bentuk konsisten pihak sekolah terhadap aturan sehingga menjadi bahan rujukan kepada siswa yang lain agar tidak bermain-main dengan aturan. (*)

Penulis: Arsyad Parende
Foto: dok. Kareba Toraja

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *