Digitalisasi dan Dunia Pasca Covid-19

  • Whatsapp

Banyak penulis terkenal mulai meramalkan serupa apa dunia pasca Covid-19. Yuval Harari sudah prediksi dunia akan dihadang dua pilihan; jatuh ke rejim pengawasan atau demokrasi yang egaliter.

Professor Ariel Heryanto, penulis buku “Identitas dan Kenikmatan” menulis amatannya di Australia dimana layanan pos tradisional berguguran karena tergerus arus digitalisasi. Dia menduga, pasca Covid-19, dunia sepenuhnya akan tergantung pada digitalisasi.

Bacaan Lainnya

Pagi ini saya mengikuti misa online dari Gereja Katolik Makale melalui siaran langsung di grup Facebook karebatoraja.com. Tetapi saat bersamaan ada juga ibadah online dari Gereja Toraja Rantepao juga disiarkan karebatoraja.com. Saya menonton ulang- alik. Memilih mana kotbah yang menarik dan disajikan dengan humor. Sudah jadi kebiasaan saya suka kotbah oleh pastor yang lucu dan menghibur. Tadi itu,  saya ulang alik karena dua-duanya menarik. Saya lupa bahwa sebenarnya bisa memutar ulang. Digitalisasi sungguh ajaib. Pengalaman sangat baru.

Baca Juga  3.630 Personil Pasukan Gabungan Amankan Pemilu dan Pilpres di Toraja

Dunia Digital

Saya sudah terpikat dunia maya, cyber space, internet, dan media sosial sejak dulu. Sejak mulai menyusun thesis di Unhas. Saya membacai buku Don Taffscot, Growing Digital bagaimana budaya anak-anak yang tumbuh di lingkungan digital. Saya menyimak buku karya bersama  Eric Smith dan Jared Cohen, keduanya bos Google. Judulnya The New Digital Age, membahas bagaimana strategi membentuk kembali masa depan kita, negara dan bisnis di era digital yang baru. Sekarang pun sedang mendalami konsep masyarakat jaringan, network society yang dikenalkan Sosiolog Manuel Castells dan Prof. Jan van Dijk. Keduanya, terutama perubahan struktur sosial, identitas, dan gerakan sosial.

Sejak beberapa tahun lalu, saya memaksa mahasiswa memiliki akun email, mempunyai blog pribadi di internet. Sekarang beberapa mahasiswa itu sudah berkarier jadi guru dan dosen. Tentu tidak asing lagi ketika diminta mengajar dan kuliah online.

Saya juga mengajak kawan-kawan untuk beralih ke dunia digital. Termasuk kawan saya Avelino Agustinus dari Tabloid Kareba.

Baca Juga  Pekerjaan Pemasangan Jembatan Kaca di Buntu Burake Dinilai Berbahaya dan Mengabaikan K3

Waktu itu, orang-orang mulai gemar media sosial untuk interaksi sosial dan berhubungan dengan teman-teman lama. Jauh sebelum era online shop, kuliner, transaksi, bisnis, ibadah daring seperti sekarang.

Hari ini, saya ingat kawan saya itu gegara ibadah ulang-alik, Katolik dan Protestan yang saya alami. Ketika tadi  ikut misa online dari grup Kareba Toraja, bagian dari portal karebatoraja.com yang dulu bertahun-tahun terbit dalam bentuk koran tabloid.

Dulu setiap ketemu, saya pasti tanya bagaimana Kareba. Ino, begitu saya memanggilnya, akan menggagaruk- garuk  kepalanya yang kribo itu. Bibirnya mendesis, mengeluh dengan suara serak becek, betapa dia pusing. Bukan pusing cari berita. Pusing menagih utang langganan koran, pusing lunasi biaya cetak percetakan.

Syukurlah, pada akhirnya dia beralih ke ranah digital, media online. Sekarang dia mengaku sedang lockdown di rumahnya dengan istri dan putranya, Arthur. Meski begitu media yg dia pimpin karebatoraja.com tetap rutin dan terdepan mengabarkan Toraja. Ballona Shop, online shop milik Sethy, istrinya, tetap melayani pesanan secara daring.

Baca Juga  DPRD Tana Toraja Diminta Segera Tuntaskan Ranperda Perlindungan Perempuan dan Anak

Karena itu, saya tak percaya Ino mengaku habis duit di messenger kemarin dulu.

Sampai sekarang, suatu kebahagiaan bagiku bila berkesempatan memberikan saran dan pendapat. Terutama teman-teman yang punya usaha. Beralihlah, masuklah ke dunia digital. Kadang-kadang rasanya seperti suara Yohanes Pembaptis di padang gurun.

Kadang-kadang benar saran jurnalist senior Kantor Berita Ucan Indonesia: don’t tell but show.

Di channel YouTube, saya lihat lagu-lagu dari album Salma Margareth mendapatkan view sangat besar. Dulu sebelum beralih digital, kita hanya dengar di radio kaset atau radio Rina Bestari yang di Rantepao itu.

Minggu lalu, saya pesan masker secara online. Dari seorang teman di Facebook, ibu rumah tangga tinggal di Makale. Sementara orang sibuk bicara Corona dia sibuk cari pembeli produk buatannya di media sosial.

Akhir kata, selamat menikmati. Selamat Hari Minggu. Stay healthy and safety. Siapkan diri menyambut era pasca Covid-19. (*)

Penulis: Stepanus Bo’dopengamat sosial media, Dosen, tinggal di Palu, Sulteng.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *