BERITA FOTO: Bukan Mayat Berjalan, Ini Upacara Ma’nene di Parandangan, Toraja Utara

  • Whatsapp

KAREBATORAJA.COM, PARANDANGAN — Upacara Ma’nene di Lembang Parandangan, Kecamatan Buntu Pepasan, Toraja Utara, sudah berakhir tanggal 12 Agustus 2017. Selama kurang lebih 12 hari, warga Parandangan melaksanakan upacara ini.

Meski sudah beberapa hari berakhir, namun karebatoraja.com baru bisa mempublikasikan foto-foto upacara tersebut, yang dikirim oleh seorang warga Parandangan, Darmawan Masarrang.

Bacaan Lainnya

Darmawan mengatakan, upacara Ma’nene di Parandangan ini dimulai tanggal 1 Agustus 2017 dan berakhir dengan sebuah ibadah syukur yang dipusatkan di Lapangan Pindan, Parandangan, pada tanggal 12 Agustus 2017.

Baca Juga  KPK Ingatkan Kepala Lembang Soal Pengelolaan Dana Desa

BERITA TERKAIT: Ini Jadwal Upacara Ma’nene di Beberapa Kecamatan di Toraja Utara

“Ada lebih 30 mayat yang usianya ada yang puluhan, bahkan ada pula yang sudah ratusan tahun, yang dibersihkan dan diganti pakaiannya dalam upacara ini,” kata Darmawan.

Dari sekian puluh mayat yang dibersihkan dan diganti pakaiannya itu, lanjut Darmawan, ada mayat yang sudah membatu dan menjadi mumi.

Ma’nene adalah ritual membersihkan dan mengganti pakaian mayat-mayat yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun. Ritual ini hanya dilakukan oleh masyarakat di bagian utara Toraja, seperti Baruppu, Pangala’, Parandangan Buntu Pepasan, dan sebagian daerah Sesean.

Upacara Ma’nene hanya boleh dilaksanakan setelah panen, yang biasanya jatuh pada bulan Agustus-September.

Baca Juga  Objek Wisata Buntu Burake Ditutup untuk Umum

Masyarakat adat Toraja percaya jika ritual Ma’nene tidak dilakukan sebelum masa panen, maka sawah-sawah dan ladang mereka akan mengalami kerusakan dengan banyaknya tikus dan ulat yang datang menyerang tiba-tiba.

Meskipun usianya sudah puluhan, bahkan ratusan tahun, banyak mayat yang dibersihkan dan diganti pakaiannya pada upacara Ma’nene, terlihat masih utuh. Itu sebabnya, bagi orang-orang non Toraja, upacara Ma’nene ini disalahartikan sebagai upacara menjalankan mayat atau mayat berjalan. (Herson Pasuang/foto: Darmawan Masarrang)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *