Begini Tanggapan Bupati Toraja Utara Atas Aksi Serentak Warga Toraja Mempertahankan Lapangan Gembira Rantepao

  • Whatsapp

KAREBATORAJA.COM, RANTEPAO — Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan, yang menjadi tergugat dalam perkara tanah Lapangan Gembira atau Lapangan Pacuan Kuda Rantepao melawan ahli waris Haji Ali, menyatakan sangat salut dan hormat dengan perjuangan berbagai elemen masyarakat Toraja untuk bersama-sama mempertahankan tanah adat tersebut.

Untuk diketahui, pada Selasa, 28 Juli 2020, sejumlah elemen mahasiswa, pemuda, dan masyarakat Toraja melakukan aksi unjuk rasa di Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial di Jakarta sebagai bentuk tindakan non litigasi dalam mempertahankan tanah adat Rante Menduruk atau Lapangan Gembira Rantepao.

Bacaan Lainnya

Baca Juga  20 Kepala Keluarga Kehilangan Tempat Tinggal Akibat Kebakaran di Pasar Bolu

Selain di Jakarta, aksi yang sama juga dilakukan sejumlah elemen masyarakat Toraja di Makale, Tana Toraja dan Tugu Kandian Dulang Rantepao, Toraja Utara. Di Rantepao, aksi unjuk rasa bahkan berlangsung hingga malam hari.

“Aksi sejumlah elemen mahasiswa, pemuda, dan masyarakat yang dilakukan serentak di Jakarta dan Toraja kemarin merupakan pengungkapan emosi dan aspirasi dari rakyat Toraja Utara atas kesewenang-wenangan perlakukan hukum dalam perkara Lapangan Gembira yang sebelumnya disebut Pacuan Kuda. Saya, baik secara pribadi maupun mewakili pemerintah Kabupaten Toraja Utara sangat salut dan mendukung aksi tersebut,” tegas Kalatiku, melalui pesan khusus ke redaksi karebatoraja.com, Rabu, 29 Juli 2020 malam.

Dia menegaskan, siapapun masyarakat di Kabupaten Toraja Utara ini pasti merestui aksi yang dilakukan oleh para mahasiswa dan pemuda tersebut. “Karena kita memahami karena mereka tampil dengan sangat baik, aksi berlangsung damai, dan aspirasi tersalurkan,” katanya.

Baca Juga  Catat, Ini Tiga Event Besar yang Akan Digelar di Toraja Juli-Agustus 2017

Kalatiku berharap, aksi unjuk rasa dari para mahasiswa, pemuda, dan sejumlah elemen masyarakat bisa membuka mata para petinggi negara dan pejuang keadilan di negeri ini bahwa ada perlakuan hukum yang tidak adil dalam perkara Lapangan Gembira antara ahli waris Haji Ali melawan Bupati Toraja Utara.

Untuk diketahui, tanah Lapangan Gembira atau Lapangan Pacuan Kuda, yang dahulunya disebut Rante Menduruk terletak di Kelurahan Rante Pasele, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara. Di atas tanah seluas kurang lebih 3 hektar ini sudah berdiri berbagai bangunan milik pemerintah dan fasilitas umum. Diantaranya Gedung SMA Negeri 2 Toraja Utara, GOR Rantepao, Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Toraja Utara, Samsat Sulsel, Dinas Kehutanan Sulsel, Telkom, Pertani, Puskesmas Rantepao, Kantor Kelurahan Rante Pasele, dan Kantor Cabang Dinas Pendidikan Rantepao.

Baca Juga  Jadi Tuan Rumah Pra Porda Billiard, Toraja Utara Optimis Raih Tiket Porda

Tanah kemudian digugat oleh ahli waris Haji Ali, yang konon dibelinya dari seseorang bernama Ambo Bade. Ahli waris Haji Ali menggugat Bupati Toraja Utara dan PT Telkom. Dalam beberapa tingkatan persidangan, mulai dari Pengadilan Negeri Makale, PT Makassar, hingga ke Mahkamah Agung, majelis hakim mengabulkan gugatan ahli waris Haji Ali. Dalam tuntutannya pemerintah diminta mengganti kerugian materi sebesar Rp150 miliar. Kasus ini kini sudah masuk dalam tahapan Peninjauan Kembali yang diajukan oleh Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan.  (*)

Penulis: Arthur
Foto: Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan, menyampaikan orasi usai menyerahkan memori Peninjauan Kembali (PK) perkara Lapangan Gembira Rantepao di Pengadilan Negeri Makale, beberapa waktu lalu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *