Aluk Pare; Aturan Tentang Padi Versi Agama Suku Toraja

  • Whatsapp

Sebelum agama-agama samawi masuk, masyarakat suku Toraja sudah memeluk agama suku, yang belakangan disebut Aluk Todolo/Alukta. Aluk merupakan ajaran atau aturan-aturan hidup sebagai suatu keyakinan. Sedangkan Todolo artinya orang yang lebih dulu atau nenek moyang/leluhur.

Itu sebabnya Aluk Todolo disebut sebagai ajaran atau aturan-aturan hidup sebagai suatu keyakinan para leluhur orang Toraja.

Bacaan Lainnya

Menurut kepercayaan Aluk Todolo, Puang Matua (Allah) menciptakan bumi dan segala isinya termasuk aturan-aturan yang digunakan dalam pemujaannya kepada sang pencipta.

Cara menyembah ditetapkan oleh sang pencipta dalam bentuk Aluk melalui ritus-ritus dan pemali (pantangan/larangan), dan yang dipergunakan umumnya adalah hewan, tumbuh-tumbuhan, air, padi, besi dan lain-lain, diiringi dengan puji-pujian, hymne.

Baca Juga  Foto-foto Ini Lagi Viral di Media Sosial Warga Toraja

Diantara sekian banyak ritus Aluk Todolo, terdapa sebuah ritus yang mendapat tempat yang layak dalam masyarakat  dan merupakan lambang kekayaan, yakni Aluk Pare.

Aluk Pare adalah ajaran atau aturan hidup terkait dengan Padi, yang dipercaya sebagai penopang utama kehidupan manusia. Ritual ini dimulai dari membersihkan lahan/sawah serta saluran irigasi atau saluran air (Massero Padang/Ma’sadang Kalo) hingga Ma’bua’ Pare (syukuran atas hasil panen).

Dari kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten Tana Toraja dalam rangkaian hari ulang tahun kabupaten ke 62 dan Hari Jadi Toraja ke 772 di Lembang Saluallo, Kecamatan Sangalla’ Utara, Kamis, 22 Agustus 2019, memperlihatkan urutan-urutan dalam ritual Aluk Pare tersebut.

Massero Padang/ma’sandang kalo, artinya menyiapkan lahan persawahan dan saluaran air. Selanjutnya ma’Banne Panta’nakan yang artinya menyiapkan pesemaian.  Manglammak Banne artinya menyiapkan benih padi, Mangambo’ Banne, atau menabur benih, Pariu atau menggarap lahan yang berisi kegiatan ma’bingkung atau mencangkul, Ma’kurrik atau Massalaga, Massapu Sali uma, Mangarak atau mencabut benih.

Baca Juga  Tutup Safari Natal, Bupati Tana Toraja Serahkan Bantuan Wisata Rohani kepada Pendeta

Selanjutnya, Mantanan Pare atau menanam padi, ma’torak atau mencabut rumput di sela-sela tanaman padi, Ma’sanda Wai atau mina padi, Mangramba dena atau mengusir burung pipit, Mangra’ba banne atau memotong padi, ma’bunu’ (mengikat padi dalam ukuran kecil), mangrakan (kutu kapua) ikatan padi dalam ukuran besar, ma’pesung.

Prosesi berikutnya adalah mepare (ma’ta bunu’), ma’kangkanni (bagi hasil), ma’po’ko’ atau membiarkan hasil panen tiga hari di pematang sawah, Mangallo dio tampo uma atau menjemur padi dipematang sawah, manglemba’ atau memikul padi kembali ke rumah, ma’pongo’, manta talitak atau pembagian hasil berdasarkan kepemilikan tanah, manglika’ atau menyimpan padi di Alang (lumbung).

Lalu dilanjutkan dengan ma’ mia’ mia’ atau pengucapan syukur panen, ma’lambuk atau menumbuk padi untuk dijadikan beras, mangrurui, mangtanga dan manta’pi atau menapis beras untuk dimasak.

Baca Juga  Pendidikan Anak Usia Dini Sangat Penting untuk Menghadapi Perkembangan Zaman

Seluruh rangkaian aluk pare dan ma’lambuk ini dihadiri ratusan warga dan wisatawan, bahkan Bupati Tana Toraja, Nicodemus Biringkanae pun ikut dalam arak-arakan dan seluruh rangkaian ritual.

Kepada wartawan, Nicodemus mengatakan tujuan utama kegiatan Aluk Pare ini adalah untuk mempertahankan kebudayaan asli orang Toraja serta memberikan pendidikan bagi generasi penerus terkait pesan dan nilai yang bisa diperoleh dari Aluk Pare ini.

“Disamping itu, tentu saja kita ingin melestarikan hal-hal baik yang sudah menjadi budaya leluhur dan kita lestarikan sampai sekarang,” katanya. (*)

Catatan: tulisan ini mungkin masih jauh dari sempurna, bisa juga ada salah atau keliru. Untuk itu, mohon bagi yang memiliki pengetahuan lebih, kami sangat terbuka untuk menerima saran atau kritikan. Aluk Pare bisa saja berbeda pelaksanaannya di setiap wilayah adat di Toraja.

Penulis: Arsyad Parende
Foto: Paul Tandiayu/Ivonny M

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *