57.600 Bibit Kopi Arabika Toraja Varietas Churia Dibagikan kepada Tujuh Komunitas Binaan CU Sauan Sibarrung

  • Whatsapp

KAREBATORAJA.COM, MAKALE SELATAN — Setelah hampir dua tahun berproses, akhirnya komunitas binaan CU Sauan Sibarrung melakukan penanaman perdana bibit kopi Arabika Toraja varietas Churia, yang secara seremonial dilaksankan di komunitas Santung, Makale Selatan, Tana Toraja, Sabtu, 17 Oktober 2020.

Penanaman perdana bibit kopi ini dihadiri oleh Ketua Pengurus CU Sauan Sibarrung, P. Fredy Rante Taruk, Pr, Kadis Pertanian Kabupaten Tana Toraja Salvius Pasang, SP, Ketua PSE KAMS P. Cakra Arung Raya, Pr, Aktivis SP2T Bolu, aktivis dan manajemen CUSS, aparat pemerintah setempat, dan anggota Komunitas Binaan CU Sauan Sibarrung.

Bacaan Lainnya

Kolaborasi apik antara CU Sauan Sibarrung, Yayasan RiverBed Jakarta, dan Sentrum Pengembangan Pertanian Terpadu (SP2T) Bolu-Toraja memunculkan proses komprehensif tentang manajemen perkopian di komunitas-komunitas binaan CU Sauan Sibarrung, dengan visi utama mengembalikan kejayaan kopi Arabika Toraja.

Ada 3 nilai utama yang menjadi pondasi proses ini: Metode partisipatif, sistem organik, dan pendampingan yang berkelanjutan. Para petani menyediakan lahan, mengolah lahan secara gotong royong, dengan komitmen dan kerja keras. Selanjutnya, cara bertanam organik menjadi ciri khas, melalui pembuatan dan penyediaan pupuk kompos secara mandiri, dan proses-proses selanjutnya yang ramah lingkungan (Madarana Lako Daenan). Sementara pendampingan datang dari CU Sauan Sibarrung, fasilitator-fasilitator handal dari SP2T Bolu, dalam kawalan ahli perkopian dari Jember dan fasilitator negeri Belanda.

Baca Juga  Arabika Toraja Juara Kontes Kopi Indonesia 2016

Proses ini bermula ketika Yayasan RiverBed mengutus Mr. Henk (Belanda), seorang fasilitator perkopian yang telah sukses mendampingi petani kopi di Aceh dan bebarapa daerah di Asia Tenggara, untuk melakukan survey di 6 lembang/kelurahan di Toraja, yaitu di Lembang Gasing Kecamatan Mengkendek, Kelurahan Kayu Osing Kecamatan Rembon, Kelurahan Tosapan Kecamatan Makale Selatan, Desa Limbong Sangpolo Kecamatan Kurra, Lembang Buntu Lobo Kecamatan Sesean, dan Kelurahan Bokin Kecamatan Rantebua, dimana wilayah-wilayah ini berada pada ketinggian 1200-1700 m di atas permukaan laut. Hasil survey menunjukkan bahwa rata-rata umur kopi di daerah tersebut adalah 20-30 tahun. Hasil assessment sementara memperlihatkan rata-rata hasil panen per hektar yang sangat minim. Metode perawatan yang asal-asalan turut mempengaruhi kualitas kopi yang tidak maksimal.

Dengan perbandingan umur dan produktivitas kopi di Toraja, maka pada umumnya kopi Toraja sebaiknya sudah harus diremajakan (replanting). Adapun tanaman kopi yang ada pada saat ini yang umurnya di bawah 20 tahun, bibitnya diperoleh dari tanaman kopi yang tumbuh dari biji yang jatuh di sekitar kopi induk, dimana kualitas bibit ini masih dipertanyakan, karena tidak melalui proses pembibitan yang benar. Petani juga kurang memahami benih yang baik, yang seharusnya diperoleh dari biji yang didapatkan dari pohon yang telah diketahui mutunya, pohon induk yang produksinya tinggi dan tahan terhadap hama dan penyakit.

Baca Juga  Kopi Akan Didesain Menjadi Daya Tarik Wisata Toraja Utara

Ahli perkopian dari ICCRI Jember bersama Mr. Henk, dan Tim lokal telah meneliti jenis tanah, suhu, dan beberapa jenis hama/penyakit yang menyerang kopi Toraja. Adanya perubahan iklim beberapa tahun terakhir, yang menyebabkan suhu di Toraja sudah jauh berubah, akhirnya tim memutuskan untuk 1) memperbaiki tanaman kopi dengan varietas biji yang menjanjikan dan pengembangbiakan vegetatif, 2) memperbaiki kebun kopi yang ada dengan menerapkan a package of improved inputs seperti pemangkasan dan peremajaan, pemilihan pohon induk terbaik dari varietas yang ada, pengendalian kesuburan tanah, pengendalian hama dan penyakit, naungan yang lebih baik, pengendalian gulma, erosi dan pemanenan dan 3) penyediaan benih, pembibitan, perencanaan demplot dan pelatihan dari ICCRI, Jember.

“CU Sauan Sibarrung berkomitmen penuh untuk memajukan kopi Toraja, terutama jenis arabika. Kita ingin mengembalikan kejayaan kopi Toraja di masa lalu”, demikian penjelasan ketua CU Sauan Sibarrung, P. Fredy Rante Taruk, Pr.

Baca Juga  Kalatiku Hanya Beri Waktu Enam Bulan untuk Pejabat Barunya

“Proses pendampingan CU kepada komunitas petani kopi kami lakukan secara komprehensif, terutama adalah proses penyadaran dan pelatihan teknis perkopian yang ramah lingkungan. Dari penyiapan lahan hingga manajemen pasca panen akan kami kawal dengan serius, bersama dengan mitra kerja,” urainya lebih lanjut.

57.600 bibit kopi arabika Toraja siap ditanam pada lahan seluas 36 Ha milik petani, di tujuh komunitas hingga pertengahan November 2020. Tujuh Komunitas itu adalah:

  1. Kalimbuang Boba, Santung, Makale dengan 9.200 bibit
  2. Se’pon Lindo Tau, Batutumonga, 5.600 bibit
  3. Tali Barani, Bokin, 6.000 bibit
  4. Tali Tallu, Limbong Sangpolo, 4.000 bibit
  5. Kayuosing, Rembon, 6.400 bibit
  6. Tumonga Kasisi, Gasing, 18.400 bibit
  7. Sumber Alam Sopai, Marante, 8.000 bibit

Dengan prediksi pertumbuhan yang normal, dan perawatan yang maksimal, kopi ini diperkirakan akan mulai berbuah pada akhir tahun 2022. Program ini akan terus berlanjut dan melebar ke komunitas dan basis-basis anggota lainnya yang secara serius ingin terlibat dan berproses secara tekun. (*)

Penulis: Desianti/Rls
Foto: Pembagian bibit dan penanaman perdana kopi Arabika Toraja varietas Churia, yang secara seremonial dilaksankan di komunitas Santung, Makale Selatan, Tana Toraja, Sabtu, 17 Oktober 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *