Home » DIASPORA » RESENSI BUKU: Manusia Terpencil Menuju Jalan Pencerahan
Resensi Buku: Sejarah Sosial Tana Toraja. Oleh: Ivan Sampe Buntu

RESENSI BUKU: Manusia Terpencil Menuju Jalan Pencerahan

DATARAN tinggi Sulawesi Selatan di sebelah Utara dihuni oleh sebuah suku yang dikenal dengan nama Suku Toraja. Mendengar kata Toraja, yang terbersit adalah kopi Toraja, kerbau belang yang milliran rupiah, kuburan bayi dalam pohon (baby grave) atau kuburan batu. Keunikan Toraja tidak lepas dari budaya yang melekat dalam keseharian mereka, khususnya dalam upacara pemakaman (rambu solo). Buku ini terbagi dalam tiga bagian yakni: Pertama, Toraja di dunia Sulawesi Selatan, 1860-1904. Kedua, Belanda di dunia Toraja, 1905-1941. Ketiga, Tana Toraja di dunia Indonesia, 1942.

Toraja adalah nama pemberian orang-orang di dataran rendah (pesisir) kepada orang-orang yang ada di dataran tinggi. Toraja dari kata, to ri aja, to=orang, riaja=dataran tinggi. Penamaan ini tidak hanya menunjuk wilayah yang lebih tinggi, tetapi distingsi untuk membedakan orang-orang yang hidup dalam tradisi tulis (“beradab”), dan mereka yang hidup dalam tradisi lisan (“tidak beradab”), (Bdk hlm 5).

Penduduk dataran tinggi Toraja Sa’dan umumnya menyebut diri dengan menggunakan nama desa mereka, misalnya to Pao, ‘orang dari Pao’ atau to Randanan ‘orang dari desa randanan’ (hlm.5).  Kata Toraja dipopulerkan oleh orang Bugis dalam perjumpaan perdagangan kopi dan budak dengan orang Toraja Sa’dan.

Monopoli perdagangan kopi oleh penguasa lokal yang membangun kerjasama dengan penguasa dataran rendah menjadi menarik karena dibarengi dengan pernikahan politik. Kerajaan Luwu dan Sidenreng adalah dua kekuatan besar yang ingin memonopoli perdagangan kopi Toraja. Sidenreng berhasil membangun hegemoninya dan memaksa perdagangan kopi Toraja bergeser ke Pare-Pare yang sebelumnya dikuasai oleh Kerajaan Luwu (bdk. hlm. 27-28). Kerajaan Luwu kemudian membangun sekutu dengan kerajaan Bone untuk merebut kembali monopoli perdagangan kopi. Terjadilah perang kopi yang dimenangkan oleh Luwu dengan bantuan kerajaan Bone dibawa komando Patta Punggawa anak dari raja Bone (bdk.hlm.52-53).

Pasca perang kopi, menjelang 1905 dataran tinggi melakukan konsolidasi untuk menghadapi Belanda. Konsolidasi pemimpin dataran tinggi menghasilkan konsensus bahwa pertikaian akan dihentikan dan mulai menyusun strategi untuk menghadapi Belanda. Nampaknya konsolidasi ini terjadi atas pesan kerajaan Gowa untuk mendorong perlawanan dan menawarkan bantuan senjata (hlm. 67). Saling curiga penguasa lokal, menghalangi mereka untuk bersatu dan abai terhadap konsensus bersama (bdk.hlm.69).

Pertempuran yang paling sengit terjadi antara Belanda dan Pong Tiku yang dibantu oleh aliansi dari Toraja Barat yakni Ua Saruran dan Bombing. Perlawanan pada akhirnya dapat dipatahkan oleh Belanda dengan bantuan dari para pemimpin lokal yang menjadi sekutu Belanda.

Kehadiran Belanda di dataran tinggi melemahkan hegemoni kerajaan dataran rendah, monopoli kopi pun beralih ketangan Belanda. Belanda mulai melakukan misi agama dengan pertimbangan politis untuk menguasai penduduk lokal. Pengalaman perang mahal selama 40 tahun melawan orang Aceh yang dipimpin oleh para ulama dengan memakai simbol-simbol Islam nampaknya menjadi kewaspadaan tersendiri (hlm.101). Sebaliknya, orang Bugis yang dikonotasikan sebagai to sallang (orang islam) nampakanya tidak mau mengislamkan penduduk setempat karena alasan politis, lebih mudah untuk mengeksploitasi jika mereka tidak diislamkan (hlm 103). Belanda dengan bantuan para misionaris mempersiapkan pemimpin-pemimpin politik lokal yang membuat dominasi kerajaan pesisir semakin lemah dan perlahan hilang (hlm.103). Bahasa Bugis yang merupakan bahasa keaksaraan bagi elite Toraja perlahan mulai hilang dan digantikan oleh bahasa Melayu oleh Belanda (hlm. 207).

Pembangunan sekolah-sekolah berbahasa Melayu di dataran tinggi Sa’dan sejak 1913 bisa disebut sebagai awal sapere aude (pencerahan), (lih. Tabel 1, hlm.211). Sekolah-sekolah ini telah membuka kesadaran baru akan identitas etnis. Perhimpunan Boenga Lalan (PBL) yang merupakan perhimpunan pertama mendorong kesadaran dan kemajuan orang di dataran tinggi Sa’dan (hlm.239). Perhimpunan Boenga Lalan nampaknya mendorong berdirinya organisasi yang lain seperti, Perserikatan Toraja Kristen (PTC) yang lebih progresif. Perserikatan ini bahkan dicurigai sebagai organisasi yang anti kolonial dan pro nasionalis. Pemimpin muda PTC lainnya muncul sebagai pemimpin politik dalam masyarakat (hlm.240). Perserikatan yang dianggap berbahaya ini bahkan dilarang untuk membaca pers nasional.

Pada bagian akhir buku ini mengurai bagaimana situasi politik pada zaman Jepang, dan bagaimana simbol nasionalis bergejolak oleh organisasi pemuda. Puncak dari gerakan nasionalis ini terlihat ketika terjadi demonstrasi oleh para pemuda di Rantepao sebagai bentuk dukungan untuk proklamasi (bdk. Hlm 281). Pada bagian ini juga mengurai peristiwa sepanjang tahun 1952-1953 atas pergolakan aksi tanah yang melibatkan Barisan Tani Indonesia (BTI) yang merupakan organisasi sayap Partai Komunis Indonesia (PKI), sampai munculnya kekuatan baru (ORBA) pada 1966.

Bigalke mengurai dengan begitu menarik perubahan sosial yang begitu cepat terjadi, dari masyarakat tidak beradab menjadi masyarakat beradab yang mengecap pendidikan modern sejak 1913, tetapi melupakan dampak dari perubahan tersebut yang berakibat pada kaburnya nilai-nilai kearifan dalam budaya Toraja. Buku ini mungkin bisa mendorong penulis yang lain untuk melihat kembali perubahan yang terjadi bukan hanya sebagai lahirnya pencerahan, tetapi secara jernih melihat adanya konstruksi nilai terhadap budaya Toraja yang berakibat pada kepincangan nilai budaya dalam ritual-ritual yang dilakukan sampai hari ini. Semoga ada yang menerima tantangan ini?

 

Resensi Buku              : Sejarah Sosial Tana Toraja

Penerbit                      : Ombak

Jumlah Halaman         : 437

Judul Asli                     : Tana Toraja: A Social History of an Indonesian People

Penulis                         : Terance W. Bigalke

Tahun Terbit               : 2016

 

IVAN SAMPE BUNTU

Peneliti dan Rohaniawan

Mahasiswa S2 Filsafat STF Widya Sasana Malang.

Salah satu penulis pada buku Bunga Rampai: “Kearifan Lokal Pancasila” yang diterbitkan Kanisius, dan Buku “Jalan Damai Kita” yang diterbitkan oleh Gusdurian.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

share

One comment

  1. Sisilia Iriani Paonganan

    Sekedar tambahan berdasarkan naskah tutur yang saya terima, Bombing dan Ua’ Saruran berjuang belakangan sementara perjuangan awal adalah inisiatif kakak mereka: Ambe Petek (Laso’ Suang) yang gugur melawan Belanda di Benteng Alla’. Mungkin perlu ditelusuri lagi agar datanya lebih akurat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*