Home » EKOBIS » Isu Ikan Berformalin Resahkan Masyarakat
Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Tana Toraja, Eric Crystal Ranteallo, melakukan sosialisasi penggunaan zat pengawet pada bahan makanan kepada para penjual ikan di pasar sentral Makale, kemarin

Isu Ikan Berformalin Resahkan Masyarakat

KAREBA TORAYA — Berita penyitaan, operasi, dan inspeksi mendadak yang dilakukan oleh instansi berwenang terhadap produk makanan yang mengandung bahan pengawet (terutama formalin) di atas ambang batas, membuat resah masyarakat. Itu sebabnya pemerintah dituntut untuk memberikan rasa aman dan melakukan sosialisasi terus menerus untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa produk pangan yang mereka konsumsi, aman.

Menyahut keresahan masyarakat ini, Dinas Peternakan dan Perikanan Tana Toraja gencar menggelar inspeksi mendadak (sidak) dan sosialisasi keamanan dan mutu pangan di Tana Toraja, khususnya ikan yang mengandung formalin.

Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Perikanan Tana Toraja, kebutuhan ikan di Tana Toraja mencapai 6 ribu ton/tahun, sementara produksi ikan air tawar di Tana Toraja hanya mencapai 350 ton/tahun. Artinya Tana Toraja masih kekurangan 5.650 ton ikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Tana Toraja, Eric Crystal Ranteallo, mengatakan inspeksi mendadak biasa digelar Dinas Peternakan dan Perikan di sejumlah titik, seperti pasar sentral Makale dan perbatasan kabupaten Tana Toraja-Enrekang, serta perbatasan kabupaten Tana Toraja- Toraja Utara. Sidak juga dirangkaikan dengan sosialisasi terhadap pedagang agar menjaga kualitas dan mutu ikan yang masuk di Tana Toraja.

Hasil pemeriksaan yang digelar Dinas Peternakan dan Perikanan, dari 30 penjual ikan yang ada di pasar sentral Makale, 9 diantaranya atau sekitar 27% mengandung formalin.

“Sidak dan sosialisasi ini akan kita lakukan terus-menerus, apalagi menghadapi Natal dan tahun baru, keamanan pangan dan mutu betul-betul harus terjamin,” jelas Christal.

Mantan Camat Makale ini menambahkan, dalam sidak dan sosialisasi ketahanan pangan ini, pedagan banyak mengeluhkan tidak tertibnya pedagang dalam berjualan di area pasar. Masih banyak pedagang yang tidak menempati lokasi yang ditentukan.

“Kami menerima keluham dari warga soal penataan dan ketertiban pedagang dan akan kami diteruskan ke Pak Bupati,” katanya. (Arsyad Parende)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*